PERBEDAAN REALISME DAN NATURALISME DALAM SASTRA

Ketika orang menulis, atau tengah membaca karya fiksi, mungkin saja mereka menyebut karya itu sebagai bentuk tertentu sebagai aliran. Di dalam seni atau sastra, kita sudah terbiasa mendengar jenis aliran (isme) dalam banyak gerakannya. Gerakan yang pada satu sisi adalah mewakili tujuan pikiran gerakan, dan di sisi lain mewakili bentuk estetika. Dari sekian gerakan dan aliran itu bisa kita sebut, misalnya, romatisme, realisme, modernisme, posmodernisme. Setiap gerakan dan aliran itu memiliki ciri dan tujuannya sendiri. Dalam gerakan ini kemudian melahirkan bentuk-bentuk genre (gaya) sebagai aliran. Setiap aliran meawakili semangat gerakan zamannya. Misalnya, pada abad 19 lahir gerakan realisme yang menjadi lawan dari semangat romantisme yang lahir sebelumnya. Dalam bentuk realisme abad 19 ini kemudian lahir naturalisme, realisme psikologis, realisme magis, realisme sosial, dan realisme kotor (dirty realism), dan mungkin akan lahir bentuk realisme lain pada masa depan di Indonesia.

Namun, dari sekian aliran dalam realisme yang lahir, banyak orang terkadang keliru membedakan, misalnya, antara realisme dan naturalisme. Mereka menganggap keduanya sama, karena menggambarkan dunia yang seolah nyata, meskipun dua jenis itu berbeda, seperti namanya. Misalkan, apakah Siti Nurbaya adalah realis atau romantis, apakah karya-karya berlatar sejarah itu realis atau atau selain itu. Lalu bagaimana cara membedakannya?

Fiksi novel, mungkin bisa dilacak melalui karya-karya sastrawan Inggris, seperti Daniel Defoe (Robison Crusoe, 1719) dan Samuel Richardson (Pamela, 1741). Namun, dua penulis itu lebih tepat sebagai peletak dasar novel pertama di dunia. Terutama penggunaan plot yang berbeda dengan plot tradisional, seperti masa-masa Yunani klasik dan setelahnya di abad pertengahan. Tradisi fiksi Defoe dan Ricahardson juga jelas diteruskan di masa selanjutnya seperti Charles Dickens, Charlotte Bronte hingga novelis di seluruh dunia. Namun, sebagai aliran, realisme besar dalam pengaruh Prancis di masa Honore de Balzac.

Realisme meletakkan landasan intelektualnya pada kredo ‘vérité humaine’  Rembrandt (pelukis), bukan pada ‘idéalité poétique‘ seperti dalam aliran klasik. Gerakan ini secara formal pertama kali digunakan sebagai deskripsi estetika pada tahun 1835. Vérité humaine atau ‘kebenaran manusia’ adalah dasarnya, seperti pula rasionalitas Descartes dalam diktum ‘cogito ergo sum’ (aku berpikir maka aku ada). Realisme dibangun berdasarkan semangat melihat keadaan diri, materialis, dan obyektif – yang bertentangan dengan jenis romantisme (misalnya). Dalam romantisme, dasar pikirannya adalah individualitas, subyektif, irasional, imajinatif,, spontan, emosional, visioner, dan transendental. Dalam romantisme itu kita kemudian mendapatkan hal-hal yang bersifat melodrama, dan menarik emosi pembacanya pada dunia angan-angan, dan heroik. Karakternya adalah sebuah keadaan yang diidealkan atau melampaui keadaaan manusia yang biasa, dengan sifat-sifat melankolis. Karakternya diisi oleh kelas atas atau aristokrat dengan latar kehidupan alam yang indah.

Sedangkan, realisme adalah gerakan yang melawan gagasan romantisme, dan merupakan tanggapan atas revolusi industri yang melahirkan ketidakadilan dalam tatanan sosial. Honore de Balzac, misalnya, kemudian merangkum karya-karyanya dalam La Comedie Humaine. Buku ini adalah judul kumpulan cerita Balzac yang terdiri dari 91 karya. Satu dengan lainnya saling terkait yang menggambarkan secara obyektif dan kritis masyarakat Prancis pada periode Restorasi (1815-1830) dan Monarki Juli (1830-1848).

Dalam realisme ini, dunianya dibangun senyata mungkin dengan dunia nyata, meskipun ceritanya adalah fiksi. Dengan dasar itu, realisme menjadi semacam potret sosial yang detail dalam narasi dan deskripsinya. Realisme tak memiliki tokoh pahlawan, seperti dalam fiksi romantisme dan sebelumnya, meskipun karakternya memiliki pilihan bertindak untuk membawa perubahan di akhir. Tokoh-tokohnya adalah karakter yang mewakili pengalaman hidup kelas menengah ke bawah. Contoh sastrawan selain Balzac dalam realisme adalah Gustav Flaubert, Charles Dickison, Mark Twain, Fiódor Dostoyevski, Pramudya Ananta Toer, dan lain-lain.

Perbedaan

Naturalisme sering disalahpahami banyak orang sebagai realisme. Kesalahpahaman itu lahir karena perbedaan yang sangat tipis di antara keduanya. Seperti realisme, naturalisme lahir di abad 19 dan berasal dari Prancis. Tokoh awalnya adalah Emile Zola, kemudian diikuti oleh misalnya oleh muridnya, yaitu Guy de Maupassant. Kemudian di masa modern, kita mendapatkan penulis naturalis seperti Sthepen Crane, Jack London, Thomas Hardy, John Steinbeck, dan lain-lain.

Seperti realisme, naturalisme pada dasarnya juga menggambarkan kehidupan manusia secara obyektif. Naturalisme, seperti kata Zola adalah semangat yang sama dengan cara yang berbeda. Bila realisme posisi filosofisnya adalah membawa gagasan positivisme Descartes, yaitu. memberikan proses berpikir dalam kesadaran individu sebagai hal yang sangat penting, yang berhubungan dengan identitas pribadi secara alami dan menarik banyak perhatian, naturalisme membawa semangat teori Darwin, yaitu ‘survival of the fittest‘. Karakter dalam fiksi naturalistik dibentuk oleh biologi dan lingkungannya, dan perjuangan untuk bertahan hidup adalah temanya.

Bila realisme mewakili realitas sebagai ‘verisimilitude’(kebenaran obyektif) dan mengambil obyek kehidupan masyarakat kelas menengah sehari-hari dan masih memiliki pilihan untuk bertahan, dalam naturalisme, selain membawa kebenaran obyektif, karakternya adalah masyarakat kelas bawah. Mereka adalah manusia yang kalah oleh kekuatan yang lebih dominan. Nasib mereka, sepenuhnya di luar kendali mereka, dan menempatkannya dalam keadaan tak berdaya yang memaksa mereka hampir menyerah pada nasib. Emile Zola sendiri berpendapat bahwa naturalisme dalam sastra harus seperti eksperimen terkontrol di mana karakter berfungsi sebagai fenomena. Eksperimen adalah metode untuk menghasilkan kebenaran secara positif atas fenomena.

Jadi, perbedaan keduanya (realisme dan naturalisme) bila disimpulkan, pada dasarnya tidak terlalu besar, kecuali pada beberapa hal. Pertama, cakupan karakter dalam kelas sosial yang diceritakan. Realisme menceritakan masyarakat kelas menengah ke bawah, sedangkan dalam naturalisme hanya bercerita masyarakat kelas bawah. Kedua, karakter dalam realisme memiliki pilihan untuk perubahan nasib, sedangkan karakter naturalis selalu dikendalikan oleh lingkungan, kekuatan alam atau hal yang dominan. Ketiga, Dalam realisme ada unsur dilema moral yang ambigu, berlatar waktu saat dituliskan, dan bersifat kritik melalui komentar, baik itu soal sosial atau politik. Sedangkan naturalisme, bersifat determinan yang menjadi keadaan karakternya, di mana ada kekuatan besar yang tak mampu dilawan, seperti alam, ekonomi, budaya, dan lainnya. Demikian. []

-Ranang Aji SP, adalah penulis fiksi dan nonfiksi. Tinggal di Magelang.

 

 

TEKNIK FRAKSIONASI DALAM FIKSI
CHAIRIL ANWAR DAN ESENSI MODERNISME II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories