SANG MESIAH

Pukul 21.00 WIB. Suara serangga berdenging membentur-bentur kesunyian malam. Tiga cicak terlihat. Satu merayap, dan dua menempel di sisi kanan tembok kamar. Lalu, seekor kecoa terbang melintas brrrrr dari arah kamar mandi. Dia mendengar kepakan halus mahluk itu, dia melihat semua itu dengan bola matanya, dia menyimpannya dalam hati. Dalam ruang jiwanya yang paling sepi.

Kamarnya, seluas empat atau lima depa dari ujung depan ke tubuhnya yang terlentang di kasur besi tua berjarak dua depa. Mungkin tiga. Sisi sampingnya selebar enam kali tangan dibentang. Ruang yang tak terlalu sempit dengan atap setinggi empat meter. Di samping ranjang kecilnya, ada meja kecil coklat tua kusam, tapi kokoh. Di atasnya menumpuk kertas dan buku-buku, membentuk semacam gedung kotak rusak yang miring. Dari sana, tangannya meraih buku agenda berusia lima tahun dan sebuah pensil. Buku itu berwarna hitam. Pada punggung buku tertempel huruf stiker dikerat bertuliskan namanya: Mesiah.

Tubuhnya bergetar dan bergeser, kemudian dia mencoba menyandarkan kepala dan punggungnya pada bantal. Matanya mulai menatap pada permukaan bukunya. Jari tanganya bergerak, menekan-nekan. Semula dia hanya menatap saja, namun kemudian dia memutuskan menulis sesuatu. Dia ingin seseorang membaca ceritanya.
“Aku melihat kecoa dan cicak. Aku benci mereka dan mulai berpikir memakannya satu per satu.”

Dia ingin mempostingnya dan menunggu siapa pembaca pertamanya. Seandainya buku itu sebuah gawai. Tapi dia tak punya gawai. Matanya terus menatap, tak lepas dari permukaan bukunya. Dia bayangkan bukunya sebuah gawai. Setelah lima menit awal, matanya tak berkedip. Menit keenam, matanya mulai berkedip, mengerjap dan bersinar redup.

Sekali lagi dia menungu tanpa melepaskan tatapan matanya pada permukaan bukunya. Sepuluh menit tiba, dan tak satupun ada yang membaca, terutama seseorang yang namanya dia simpan rapi dalam hati. Lalu dia sadar, itu bukan gawai. Sejenak kemudian, dia mulai berpikir untuk menghapusnya, tetapi urung. Dengan satu gerakan lamban, di bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Meletakkan bukunya yang tak lagi dia bayangkan sebuah gawai di atas meja. Perasaannya mulai tak senang, tapi mulutnya lebih mirip tersenyum.

Pukul 22:00 WIB. Tubuhnya mulai penat. Suara serangga malam berpadu dengan raungan sepeda motor yang lewat. Jendela tertutup rapat dengan terali besi. Kain kordennya bergerak pelan. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Seorang pria tua berkopiah bersarung muncul dan meletakan baki dengan segelas teko dan satu gelas berisi air teh di atas lantai karena tak menemukan tempat di meja kecilnya. Dia tak peduli, dan orang itu pun hanya diam tak berkata-kata, dan pergi begitu saja dengan langkah perlahan. Ketika pintu kamarnya tertutup, segera saja dia kembali mengambil buku dan pesilnya.

“Seorang guru agama mengajar tentang perintah Tuhan. Malam harinya ia betobat pada Tuhannya usai memperkosa salah satu muridnya. Ia bertemu lagi dengan salah satu muridnya pada suatu malam, dan kembali menyatakan bertobat pada Tuhannya yang Maha Pengampun. Sebulan kemudian, ia tampak benar-benar bertobat. Kali ini ia bertobat pada Tuhan dan polisi yang menangkapnya.”

Usai menulis itu dia tertawa terbahak-bahak karena merasa geli dengan perilaku guru agama itu. Seseorang mengetuk pintu dari luar, dan memintanya tidur. Dia tak menjawab, tapi dia berheti tertawa. Kemudian, diletakkan bukunya kembali di atas meja, dan lantas berdiri mendongak ke atas langit-langit. Perasaannya tiba-tiba merasa jijik. Dengan dorongan yang kuat, dia meludah ke atas. Cuiiihh…air ludahnya jatuh di lantai, hampir saja mengenai wajahnya sendiri. Dia kembali duduk dan meraih buku dan pensilnya lagi.

“Guru agama itu sama persis dengan politisi busuk. Wajahnya bisa berubah-ubah setiap waktu. Ia munafik. Aku pernah membaca cerita Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah menjadi kecoa di suatu pagi yang membingungkan. Gregor Samsa berubah karena terperangkap dalam kehidupan rutin dan menekan. Tapi, para politisi busuk itu bisa berubah menjadi apa saja, sekehendak mereka sendiri karena ingin menjebak dan memakan orang lain.”
Pukul 23.00 WIB. Dahinya berkerut membayangkan dirinya seekor kecoa.

Di kamanya ini, kecoa bebas berkeliaran setiap waktu. Ketika malam mereka merangkak dan berterbangan di dalam kamar. Dia tak suka bayangan itu, dan akhirnya memutuskan untuk berbaring. Dibenahinya bantalnya yang kusut dengan menepuk-nepuk, kemudian tangannya menarik selimut ke atas tubuhnya. Dia pejamkan matanya, mencoba tidur, tapi tiba-tiba dia bangkit dan mengeluh. Dahinya berkeringat. Tangannya gemetar meraih buku dan pensilnya.

“Anjing-anjing mengonggong ketika bulan tertutup awan. Di kampung sebelah, seorang maling burung mati dengan mulut remuk, dan tulang iganya patah. Lima anaknya menangis, dan istrinya kabur entah kemana. Di penjara kota, seorang maling uang negara, tengah bermain kartu bersama tiga sipir, kue, dan minuman bersoda dingin. Ibu-ibu dan nona pejabat berkilat dengan emas dan berlian…”

“Orang-orang mulai tersesat. Di pintu desa, seekor monster datang menghadang. Seorang pria tertawa terbahak-bahak. Janda beranak lima menangis di bawah pohon kelapa.”

Setelah menulis itu, dia mengambil gelas dari baki di atas lantai, dan meminumnya satu teguk. Kemudian dua jarinya dicelupkan ke dalam gelas dan lantas mengusapkannya pada dua pelupuk matanya. Ketika dia kembali duduk di ranjangnya, tiba-tiba seorang pria tua hadir begitu saja, dan menegurnya. Suaranya begitu kuat hingga membuat telinganya berdengung. Pria tua itu memintanya duduk di lantai. Katanya ia hendak menceritakan sesuatu yang sangat penting bagi keadilan dunia. Dia menuruti apa yang pria tua itu inginkan, duduk di lantai, dekat baki berisi gelas.

Semuanya berasal dari dalam. Dia mendengarkan suara itu. Semua kesalahan adalah dosa. Semua kesalahan adalah sampah yang harus dibakar. Harus dilenyapkan sebagai abu agar angin bisa membawanya pada tanah-tanah gersang. Dengan itu keberadaannya bisa menjadi manfaat. Dia masih mendengarkan itu. Suara pria tua itu membuatnya lebih bersemangat. Telah lama dia mengenalnya. Dia terus mendengar tanpa membantah. Begitu pria tua itu pergi, segera saja dia kembali mengambil buku dan pensilnya.

“Aku selalu bertemu pria tua itu sepanjang hidupku. Mungkin lebih dari seratus tahun lalu. Dia punya dua sayap dan dua tangan. Sayapnya bila dibentangkan akan menyentuh ufuk timur dan ufuk barat. Segala ucapannya didengar oleh semua manusia yang menjunjung keadilan. Ia memenggal setiap kepala yang berdosa. Ia membakar semua manusia yang kering jiwanya dengan api yang keluar dari matanya. Ia akan menyelamatkan manusia dari dosa.”

Pukul 00:25 WIB. Udara terasa lembab dalam ruangan. Suara jangkrik, cicak, dan kertas serta buku yang dibongkar menyatu. Dia menjatuhkan tumpukan buku dari atas meja ke lantai. Dengan tangannya dia menggosok permukaan meja, kemudian menariknya sedikit ke tengah menjauh dari ranjangnya.

Lalu, dia naik dan berdiri tegak di atas meja. Matanya terpejam, sementara tangannya secara perlahan mengembang dan kemudian mengepakkannya seperti burung terbang. Kakinya turut serrta bergerak pelan naik, turun dan mengembang. Mulutnya yang semula rapat, mulai sedikit terbuka, dan dengan mengatupkan giginya, dia mendesis dengan perut mengencang. Zzzzz.. Bayangan tubuhnya menempel di tembok dan terlihat meliuk-liuk menari.

Dia terus melakukan itu tanpa henti dalam beberapa menit, hingga akhirnya dia terduduk lemas. Kepalanya tertunduk, masuk ke dalam menyentuh dadanya.

Perasaannya perih seperti disayat-sayat. Beberapa saat kemudian tangannya mulai memijat-mijat kepalanya yang terasa sakit. Awalnya pijatan yang pelan, tetapi kemudian menjadi pijatan yang keras, dan akhirnya dia menampari kepalanya berulang-ulang. Ketika dia merasa semakin pusing akibat tamparan tangannya sendiri, dia segera meloncat berdiri kembali di atas meja. Dia mulai melakukan gerakan yang sama seperti seperti awalnya.

Dalam posisi berdiri tegak, kedua tangannya terangkat ke atas, dan mulutnya mulai menggumankan sesuatu yang tidak begitu jelas. Setelah dia mengulang suara desisnya dalam beberapa detik, dia mulai berkata-kata seolah-olah tengah berpidato.

“Hari ini, keadilan akan segera ditegakkan. Tak ada satu mahluk pun di dunia ini yang tak akan menerima rasa keadilan yang seharusnya diterima. Aku adalah mesias agung yang telah disucikan dengan api suci ilahi.”
Pukul 01.30 WIB. Dia terus berpidato dengan suara yang makin lama semakin keras. Tangannya mengepal dan mengayunkannya ke atas. Bakar! Bakar!. Bakaaarr! Ketika dia semakin berapi-api dan menghentak-hentakkan kainya di meja kecilnya hingga membuat suara gaduh, pintu kamarya tiba-tiba terbuka lebar. Empat pria berseragam putih terlihat masuk dengan panik dan segera menyeretnya dari atas meja. Dia mencoba memberontak dari cengkraman tangan-tangan kuat itu, sembari terus berteriak berulang-ulang: selamatkan manusia! Selamatkan manusia![]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories