ANALISIS DUA CERPEN PANJI SUKMA

I

 

Manhattan Corner Bar

Lindsay Janet dan Harry Keith adalah dua karakter dalam cerpen Panji Sukma berjudul Manhattan Corner Bar. Mereka adalah sepasang suami istri yang pisah ranjang dan memutuskan bertemu di Manhattan Corner Bar. Sebuah ruang publik untuk minum-minum berlatar kota Manhattan Amerika. Lindsay memutuskan mengundang Harry untuk menemuinya demi keinginannya untuk bercerai. Lindasy mengutarakan semua alasannya bahwa keputusan itu harus diambil setelah merasa bahwa Harry tidak bisa menjadi seperti harapannya, hidup secara normal sebagai suami dan ayah bagi anaknya.

Cerpen bercerita tentang hubungan rumah tangga yang tak berlangsung lancar karena obsesi Harry yang ingin meraih nobel sastra. Obsesi besar itu menyita waktu dan kenormalan dalam hubungan rumah tangga mereka. Dalam dialog kita mengetahui bahwa Lindsay pada akhirnya tidak mampu menahan perasaannya yang tersia-sia ditambah obsesi Harry tak kunjung sampai, dan diyakini Lindsay gagal. Hal itu membuatnya merasa perlu untuk berpisah karena merasa hidupnya dan putrinya Patrice tak lagi bisa mendapatkan masa depan.

Ketika menemui istrinya, Harry pada dasarnya telah menyiapkan sesuatu untuk dipersembahkan. Tapi sepertinya ia tak mampu menahan keinginan istrinya untuk berpisah. Harry hanya tampak berputar-putar dengan dialognya yang terlihat ringan dengan bertanya soal kasus yang ditangani istrinya dan kabar putrinya. Pada akhirnya, ia pun menyepakati tuntutan istrinya untuk meresmikan perpisahan mereka. Keputusan terpaksa itu tampaknya juga membawa beban pada persaan Lindsay yang digambarkan menangis. Emosi kesedihannya semakin terasa ketika menyadari bahwa Harry meraih sebagian impiannya, yaitu menjadi nomine Nobel sastra. Apakah Lindsay dengan demikian menyesali keputusannya? tentu saja tidak bisa disebut dengan demikian, bila keputusannya dilandasi oleh problem komunikasi atau tuntutan batin, yaitu perhatian Harry sebagai suami dan ayah.

Cerpen jenis ini, di Amerika lebih banyak digunakan dalam aliran dirty realism dengan penulis utama seperti Tobias Woolf dan Raymond Carver. Istilah dirty realism pertama kali digunakan oleh Bill Buford dalam majalah Granta di tahun 1984 dengan merujuk tulisan-tulisan dari para penulis Amerika angkatan Tobias Woolf dan kelompoknya. Beberapa ciri tulisan dirty realism adalah mengekspolarasi problem pinggiran dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan manusia Amerika sehari-hari, kehidupan marginal, tapi dengan proyeksi universal. Secara teknis mengikuti gaya penulisan Ernest Hemingway yang melandaskan pada teori gunung es-nya, yaitu mengandalkan kalimat pendek untuk membangkitkan subteks, dan bermain deskripsi. Dalan tulisan Panji Sukma, secara teknis memang belum sepenuhnya memperlihatkan itu semua.

 

II

Meja Kasir

 

Meja Kasir bercerita tentang perasaan seorang gadis yang bekerja sebagai kasir di sebuah mini market di sekitar lingkungan hitam. Naratornya adalah aku, sekaligus sebagai protagonis. Sebagai seorang kasir, narator menceritakan bagaimana dan seperti apa lingkungan mini market itu berada. Ia seringkali melayani orang-orang yang bekerja di sekitar yang jauh dari latar belakang keluarganya yang religius. Narator menceritakan dirinya dikelilingi oleh “tempat-tempat maksiat, dari karaoke dengan gadis-gadis berpakaian seksi yang menunggu di depan pintu, jasa pijat plus-plus, hotel yang menyediakan perempuan bayaran, dan tempat untuk membeli alkohol, semua seakan wajar tanpa ditutup-tutupi.”

Narator juga menyaksikan bagaimana para petugas kepolisian yang datang sebagai tukang pajak, bukan polisi. Seolah mereka memanfaatkan seluruh praktik haram yang ilegal. Dilatari oleh itu semua, narator menceritakan bagaimana dia tertarik pada seorang pria bernama Haris. Seorang pemuda yang sosoknya mengingatkannya pada seseorang di masa lalu bernama Fikar. Terutama pada gaya dan senyumnya. Fikar adalah idaman sebenarnya karena sifat dan perilakunya yang religius. Narator bercerita:

“Ia kerap membantuku dalam menghafal hadist sebagai tugas yang diberikan oleh pengajar pondok, dan juga banyak memberi nasihat agar aku selalu istiqamah dalam menuntut ilmu.”

Sayangnya mereka tak bisa lagi berhubungan karena terpisah jarak kota. Dan ketika dia bertemu Haris, narator merasa bahwa semua sifat baik Fikar itu ada pada Haris. Ketika dalam sebuah kesempatan narator bisa berkenalan dengan pemuda idamannya itu bahkan Haris mengajaknya berkencan, tiba-tiba seluruh harapannya runtuh ketika identitas Haris menunjukkan kebalikan dari yang dia sangka selama ini. Cerita ini diakhiri dengan gagalnya keinginan narator mendapatkan kekasih masa lalunya.

Cerpen ini adalah tentang persepsi yang salah, di mana fisik yang tampak secara visual tidak bisa menjadi ukuran seutuhnya, terutama pada isi jiwanya. Namun, meskipun cerpen ini membawa pembaca pada ukuran benar salah, tetapi sifatnya streotip. Karena tentu saja, seorang pelacur, gigolo, belum tentu adalah orang yang jahat. Semua latar belakang dari yang tampak, tentu saja masih merupakan misteri sebagai alasan moralnya. Secara teknis, plot ini berjalan lancar dengan melihat struktur gerak alurnya yang berakhir dengan pembalikan dari harapan awal narator. Kita juga bisa menangkap upaya memberi jejak dengan perangkat sastra yang disebut foreshadowing, yaitu ketika Haris bertemu dengan perempuan dengan rok pendek bermotif loreng. Pertemuan itu secara teknis dimunculkan untuk memberikan jejak pada pembaca terhadap posisi akhir cerita.

 

 

 

Leave A Comment

(Sat - Thursday)
(10am - 05 pm)
Shopping Cart (0 items)