APA ITU CERITA PENDEK?

Cerita pendek adalah karya fiksi yang biasanya lebih pendek dari novel dan berfokus pada satu kejadian, karakter, atau tema. Tidak seperti novel, yang sering kali membahas berbagai alur cerita dan karakter, cerita pendek bertujuan untuk menyampaikan narasi yang terfokus dan berdampak dalam jumlah kata yang terbatas, biasanya antara 1.000 hingga 7.500 kata. Edgar Allan Poe mendifinisikan cerita pendek sebagai fiksi yang bisa dibaca dalam sekali duduk.

Seperti ditulis di atas, cerita pendek adalah cerita yang ditulis paling panjang sekitar 60 halaman dengan spasi ganda. Tapi di Indonesia cerita pendek lebih dikenal dengan panjang maksimal 10 ribu karakter atau sekitar 1600 kata. Hal ini karena tradisi cerita pendek kita hidup di media cetak yang terbatas ruangnya. Biasanya selesai dibaca hanya 1-10 menit. Di Barat, cerita cerita pendek yang ditulis antara 500 hingga 2000 kata dikatagorikan sebagai flash fiction atau cerita kilat. Sementara cerita pendek di luar itu mencapai 20.000 kata.

Cerita pendek memiliki satu fokus peristiwa dengan karakter yang kuat. Meskipun pendek, cerpen memiliki pesona tersendiri dan memiliki kompleksitas masalah batiniah, meskipun ia bicara pada satu peristiwa saja. “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (Kompas, 1998) karya Kuntowijoyo, misalnya, bercerita tentang seorang pria Jawa yang mencari kekayaan dengan cara klenik, ia harus mengambil telinga mayat yang meninggal di malam Selasa Kliwon. Semua berjalan lancar ketika ia beraksi, meskipun mayat itu dijaga secara khusus oleh para penduduk desa. Mereka dapat ditidurkan oleh mantra yang dibaca oleh pria itu. Tapi, tiba-tiba ketika pria itu hampir berhasil membuka kafan mayat, munculah serombongan anjing liar yang merebut mayat itu. Akhinya pria itu roboh pingsan kecapain, sementara mayat itu tergeletak di sampingnya. Esok harinya penduduk mendapati pria itu dan terciptalah dua pendapat bahwa pria itu pencuri mayat, sementara yang lain menganggap ia pahlawan yang menyelamatkan mayat. Cerpen ini juga memberikan informasi tentang tradisi klenik yang hidup di Jawa. Persoalan kehidupan, kemiskinan sering diselesaikan dengan cara yang irasional. Cerita pendek jenis masuk dalam kategori realisme magis. “Ajing-Anjing Menyerbu Kuburan” juga juga memiliki plot dan ending yang dikenal sebagai twist ending. Twist dalam cerpen ini pertama dikenalkan oleh O. Henry dalam cerpennya The Gift of Magi (1905) dan Lotterey kara Sherley Jackson (1943) di Amerika. Efek kejut dari twist itu tidak saja pembaca mendapatkan kejutan, tetapi sekaligus renungan yang mendalam sebagai epifani.

Cerpen epifani bisa kita temukan dalam cerpen “Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan” karya Ranang Aji SP ( Kompas, 2018). Cerpen ini bercerita seorang kakek yang kesepian di masa tuanya. Tapi persoalannya tidak sekadar tentang kesepian, tapi juga bagaimana paradoks zaman ikut mendorong rasa sepi itu. Modernisme pada titik tertentu membuat manusia terasing dengan dirinya sendiri. Cepern ini berhasil menciptakan simbol-simbol tertentu untuk mewakili perasaaan yang terasing itu. Kacamata misalnya adalah alat yang pada awalnya didamba karena dengan alat itu ia bisa melihat dunia yang luas, tetapi ketika semakin banyak ia tahu, semakin ia merasa kuatir, takut dan semakin terasing. Maka, ia terjebak dalam dunia yang penuh paradoks. Ada ironi pengetahuan di dalam simbol kacamata dalam cerpen tersebut. Epifani (pencerahan) dalam cerita ini ada dalam momen kesadaran pria tua itu bahwa dia lebih membutuhkan teman hidup (istrinya) di hari tuanya dibanding kaca mata.

Konsep epifani ini berasal dari James Joyce. Joyce menggambarkan epifani atau “pencerahan” dalam Stephen Hero sebagai momen ketika “keberadaan” suatu objek atau pengalaman menampakkan dirinya dengan cara yang mendalam dan mencerahkan. Joyce menulis: “Dengan pencerahan, ia memaksudkan manifestasi spiritual yang tiba-tiba, baik dalam bentuk ujaran atau gerakan atau dalam fase kenangan dari pikiran itu sendiri.”

Definisi ini menekankan bahwa pencerahan dapat muncul dari pengalaman sehari-hari yang biasa, yang menangkap esensi pendekatan modernis Joyce untuk menemukan makna dalam hal-hal yang biasa. Hal ini menjadi ciri utama karya-karyanya, khususnya Dubliners.

Pentingnya Cerita Pendek dalam Sastra

Cerita pendek menjadi semacam fondasi sastra. Cerpen memungkinkan penulis untuk bereksperimen dengan ide dan tema tanpa komitmen waktu yang panjang seperti yang diperlukan untuk sebuah novel. Bagi pembaca, cerita pendek menawarkan pengalaman sastra yang cepat namun memuaskan. Penulis seperti Edgar Allan Poe, Alice Munro, dan Anton Chekhov telah menunjukkan kekuatan fiksi pendek untuk memancing pemikiran, membangkitkan emosi, dan menangkap esensi kehidupan dalam bentuk yang ringkas. Keringkasan ini membedakan dengan jenis novela dan novel.

Pengertian Novela

Novela adalah fiksi yang memiliki naskah sepanjang maksimal 20-30 ribu kata dan menceritakan satu peristiwa penting dalam kehidupan tokohnya. Novela menyerupai cerpen baik sudut pandang pengisahan tokoh dan peristiwanya, namun lebih panjang, dari cerpen dan lebih pendek dari novel. Tingkat kompleksitasnya juga lebih sederhan dibanding novel atau roman. Akar novela sudah lahir sejak abad pertengahan di Italia dengan penulis awal Giovanni Boccaccio dengan karya  The Decameron.

Di abad ke-20 semakin banyak kita menemukan penulis novela. Salah satu yang terbaik adalah Men and Mice karya John Steinbeck selain The Old Man and Sea karya Ernest Hemingway. Dalam Men and Mice, novela ini bercerita tentang dua tokoh yang selalu bermasalah dengan pekerjaan karena kondisi John yang bodoh.  Selain itu kita juga mengenal Metamorphosis karya Franz Kafka yang bercerita tentang seorang bernama Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah menjadi seekor kecoa ketika bangun di pagi hari.

Pngertian Novel

Novel adalah cerita fiksi yang ditulis setidaknya ditulis sepanjang 30 ribu kata. Tulisan yang panjang seperti ini membuat novel selayaknya sebuah orkestra yang terdiri dari banyak alat musik. Alat-alat ini menciptakan simfoni yang indah. Seperti halnya cerita pendek, Novel terbagi dalam paparan awal, klimak dan resolusi akhir. Dalam piramida Freytaqs yang juga diambil dari metode Aristoteles, model pembagian semacam ini yang paling lazim. Meskipun pada novel-novel yang lebih modern dan kontemporer struktur novel sering menggunakan jenis Fichtean Curva, In Middle Res atau Seven Point Story Sructure.

Dalam Pride of Prejudice karya klasik Jane Austen, misalnya, kita akan mendapati permulaan di mana kita diperkenalkan keluarga bahagia di sebuah pedesaaan Inggris, di sana juga disebutkan akan ada rencana pernikahan. Namun rencana itu kemudian terganggu oleh masalah yang semakin lama semakin berat. Namun pada akhirnya rencana pernikahan itu terlaksana. Cerita berakhir dengan bahagia. Di dalam novel ini melihat pelbagai karakter yang saling terhubung dan bertentangan. Dalam novel ini tidak saja kita mendapatkan hiburan bacaan, tetapi juga makna-makna tertentu dari sebuah hubungan antarmanusia dan kesimpulan tentang hubungan tersebut. dalam mazab Aristotelian kisah-kisah drama harus memberikan makna katarsis. Sebuah pembersihan jiwa setelah terjadi benturan.

Di Indonesia, novel lebih disukai dan memiliki masa depan bagi penulis. Banyak penulis bercita-cita menulis sebuah novel yang kemudian bisa memberinya kepopuleran dan juga uang. Namun, masalahnya banyak penulis yang asal menulis, tanpa disertai tradisi riset, terutama novel-novel sejarah.

-Ranang Aji SP, penulis “Sejarah Cerita Pendek dan Perkembangannya” dan “Bicara Soal Cerpen dan Elemennya”

TEKNIK FRAKSIONASI DALAM FIKSI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories