Arif Budiman (Soe Hok Djin) dan Aril Heryanto, di tahun 1984 – dalam Sarasehan Kesenian di Solo yang diinisiasi Halim H.D menawarkan konsep apa yang disebut “Sastra Kontekstual”. Gagasannya adalah melawan apa yang disebut ‘keuniversalan’ seperti diyakini dalam Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Tak ada yang ukuran yang sama atau universal dalam hal apa pun. Semua terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Rasa keindahan orang Papua, misalnya, berbeda dengan dengan rasa keindahan orang Jawa. Demikian pula, standar sastra Indonesia, seharusnya berbeda dengan standar sastra Barat. Tapi faktanya, selama ini kita terus menerus memaksakan standar sastra Barat.
Sastra Kontekstual, meskipun menjadi polemik yang tak berujung kesepakatan hingga saat ini, mencoba memberikan gambaran sebagai rujukan pada sastra yang berakar pada konteks sosial-historis masayarakat Indonesia. Dalam bahasa Arif Budiman adalah “sastra yang berpublik” – yaitu bagaimana sastra yang berupaya untuk mendekatkan sastrawan pada rasa publiknya sendiri ketimbang berjarak karena menawarkan gagasan asing yang tak bisa dijangkau publik. Estetika dalam ukuran universal seharusnya dihindari, karena tentu saja ukurannya berbeda. Masalah sosial antara Barat dan Indonesia juga berbeda, di mana saat ini masalah kemiskinan, kesenjangan sosial masih begitu tinggi yang seharusnya menjadi bahan utama ketimbang menyajikan pengalaman asing dalam fiksi Indonesia, apalagi hanya memberikan informasi latar dan nama asing. Sastra Kontekstual menjadi lebih membumi dibandingkan sastra dengan gagasan universal.
Pada sisi lain, gagasan Sastra Kontekstual lahir karena akibat fakta bahwa para sastrawan terlalu berkiblat pada standar universal (baca: Barat), Arif Budiman melihat sastra Indonesia berada pada posisi yang inferior sekaligus megalomania ( “Mencari Sastra yang Berpijak di Bumi, Sastra Kontekstual, 1985). Pendapat Arif itu saya tegaskan dalam artikel pendek saya “Merenungkan Surat Gelanggang (Kompas, 2022) yang secara terbatas saya juga mencoba mengingatkan bahwa perkembangan sastra kita tumbuh dari rasa inferior seperti tersurat dalam surat pernyataan itu – dan itu menghambat kemajuan sastra Indonesia sendiri.
Mencari Indentitas
Wacana Sastra Kontekstual, mungkin memang sepenuhnya belum selesai – karena belum memberikan definisi dan hasil yang jelas. Meskipun Romo Mangun (Y.B Mangunwijaya), misalnya, sudah menawarkan istilah sastra kagunan (kegunaan) untuk menggantikan konsep keindahan formal. Seperti kata Romo Mangun, “Indah adalah keindahan kebenaran” (pulchrum splendor est veritas). Semacam humanisme transendental. Sedangkan Yudhistira Ardi Noegraha mencoba menawarkan istilah ‘Sastra Dangdut’, yaitu sastra yang tak peduli asal-usul dan konsep. Namun, kedua gagasan itu belum mampu menyatu secara sempurna, meskipun pada prinsipnya menyepakati gagasan Arif Budiman.
Bagi saya, gagasan Arif Budiman itu adalah embrio yang pantas dirawat untuk menghasilkan bentuk baru sastra Indonesia yang khas dan tidak inferior. Sastra Kontekstual menjadi kesadaran awal – sebagai landasan kesadaran berpikir. Lalu, sastra seperti apa yang seharusnya pantas menjadi representasi sastra Indonesia? Tentu saja kita harus mencarinya. Bagaimana pun juga, untuk menghasilkan sastra Indonesia dengan cirinya sendiri, kita tak bisa mengabaikan sejarah sastra dunia yang terlanjur kita serap dan gunakan, selain mempertimbangkan bahan apa yang ada di Indonesia sendiri.
Dalam aliran sastra yang kita kenal, hampir seluruhnya berasal dari Eropa, terutama romantisme, realisme, dan modernisme . Setiap aliran menurunkan aliran baru yang khas di beberapa negara dan menjadi dominan di dunia. Romantisme dalam puisi dan fiksi jelas memengaruhi sastra Amerika melalui Edgar Allan Poe dan Ralp Waldo Emerson. Sedangkan realisme Prancis memegaruhi sastra kontekstual Amerika (rasa lokalitas) di masa Mark Twain, Kate Copin, Henry James (abad 19-20), dan juga menghasilkan jenis dirty realism di tahun 1970-80-an oleh Tobias Woolf dan Raymond Carver. Di tahun 1949, Alejo Carpentier di Kuba mengklaim realisme magis adalah aliran sastra khas Amerika Latin.
Sedangkan sastra di Indonesia sendiri, pada dasarnya belum memiliki klaim aliran dan indetitas sendiri kecuali mengikuti seluruh aliran dan kovensi sastra yang ada. Aliran sastra dominan di Indonesia dibangun oleh selera media atau sastrawannya sendiri. Menulis tanpa memahami jenis aliran tentu saja menjadi terasa tidak jujur, kecuali bersifat artifisial. Karena setiap aliran memiliki motif dan tujuannya sendiri. Sastrawan karena meyandarkan karyanya semata pada media massa seperti koran dan majalah, baik cetak atau digital – pada akhirnya mencoba mengikuti selera atau karakter media.
Misalnya, saat ini, apa yang terlihat tren dan dominan adalah jenis sastra posmodern yang bisa dikenali melalui pendekatan teknisnya, seperti penggunaan mitologi, metafiksi, pastiche, fantasi, dan intertekstual. Meskipun, jenis sastra posmodern ini sudah muncul secara formal setidaknya setelah kritikus sastra memperbincangkan karya-karya Italo Calvino dan John Barth di tahun 1970-an. Demikian pula dengan sastra jenis realisme magis yang berkembang sejak 1949 oleh Alejo Carpentier, Gabriel Gracia Marquez, Salman Rushdie, Toni Morisson di tahun 1980-an.
Semua itu menjadi kesadaran epistemik, di mana kesadaran pengetahuan, sejarah, dan konteks latar akan menghasilkan bentuk aliran yang ditandai dengan bentuk estetika serta tujuannya atau bentuk filosfosisnya. Karena tentu saja, setiap aliran memiliki tujuannya yang hendak dicapai. Jika realisme abad 19 yang positivisme menghasilkan jenis-jenis baru seperti naturalisme, realisme psikologis, realisme magis, realisme sosial, kitchen sink realism, realisme sosialis, dirty realism, dan metarealisme, maka kita bisa mengklaim jenis realisme khas Indonesia seperti Amerika Latin. Seperti pula Ayu Utami yang juga tengah mengembangkan jenis aliran romatisme Indonesia yang dia sebut “Rasa”. Hal yang tentu saja harus dirayakan bersama. Meskipun harus tetap melewati analisis kritis. Hanya saja, seperti gagasan Arif Budiman di atas, kita toh tetap harus mencari jalan sastra kita sendiri, sastra yang bukan jenis sastra inferior.[]
-Ranang Aji SP, adalah penulis sastra. Mengelola Sekolah Borobudur. Tinggal di Magelang.


