ANALISIS DUA CERPEN AVEUSHAR

CERPEN AVEUSHAR I

“Lakuan Bercinta Eksperimental Adam di Mata Hawa”

“Lakuan Bercinta Eksperimental Adam di Mata Hawa”-cerpen karya AveusHar setidaknya menawarkan kritik dalam dua perspektif sosial secara universal, dalam arti problem masyarakat global kontemporer. Pertama kecenderungan masyarakat modern yang kian tak terkontrol mencari bentuk kesenangan akibat hidup dan tumbuh dalam semangat materialisme berlebihan, dan dikuasai oleh kelaziman masyarakat pasar kapitalis yang memang didesain untuk mendukung tegaknya kapitalisme sejak Revolusi Industri, atau dalam bahasa Hebert Marcuse mengalami desublimasi represif.

Modernisme setidaknya membawa ciri demikian secara sosial, selain menawarkan hal-hal yang selalu baru – seperti tulis Ezra Pound untuk kumpulan esainya di tahun 1934, Make It New! yang kemudian menjadi doktrin suci kaum modernis dalam sastra.

Eksperimen adalah semacam upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kebaruan setiap saat. Sayangnya mencari kebaruan di dunia ini bukan hal mudah -karena setiap upaya selalu menemui jalan buntu. Charles H.

Duell, seorang Komisaris di kantor hak paten di Amerika, di tahun 1899 dikenal karena kutipannya ‘semua yang bisa ditemukan sudah ditemukan’. Kutipan itu ternyata juga tidak otentik. Sebelumnya sebuah majalah bernama Punch edisi 1899 dalam salah satu rubrik komedinya memperbincangkan soal abad yang akan datang.

Dalam sebuah percakapan, seorang jenius bertanya, “Apakah tidak ada juru tulis yang dapat memeriksa paten?” Seorang pemuda menjawab, “Tidak perlu, Pak. Semua yang bisa ditemukan sudah ditemukan.” Tapi, kutipan dialog dalam majalah Punch itu juga tidak baru. Kita masih bisa menemukan sumber yang lebih tua – dalam Ecclesiastes 1:9 versi baru yang berbunyi:

“What has been will be again,

what has been done will be done again;

there is nothing new under the sun.”

-Yang telah ada akan ada lagi,

apa yang telah dilakukan akan dilakukan lagi;

tidak ada yang baru di bawah matahari. –

Di tahun 1967, John Barth, menulis esainya berjudul The Literature of Exhaustion-‘Sastra yang Lelah’. Dalam esainya itu, Barth mengeluh bahwa semua bentuk tulisan yang baik sudah dituliskan orang, dan itu membuatnya masgul – dan pada akhirnya ia menulis jenis metafiksi seperti Lost in Funhouse (1968) jenis sastra posmodern yang juga tidak baru lagi. Dalam cerpen Aveus Har ini setidaknya ingin mengatakan itu.

Eksprerimen yang diupayakan terus oleh Adam tak kunjung ketemu karena nyaris semua yang dipikirkannya sudah dilakukan orang. Perilaku ini tentu saja mengingatkan semua yang terjadi hari ini dan masa lalu. Pada sisi lain, hasrat Adam yang semakin tak terkendali adalah bagian dari apa yang Abraham Harold Maslow sebut sebagai teori kebutuhan psikologis.

Awalnya Adam melakukan demi mencari jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti halnya masyarakat Indonesia kontemporer, namun semakin meningkat menjadi kebutuhan eksistensial hingga mengarah pada penyimpangan megalomania. Semua itu dia lakukan karena kebutuhan gengsi sebab tak ingin dikecilkan oleh teman-temannya.

Semua tindakan Adam itu bagi Hawa adalah semacam penindasan. Hawa yang semula mendukung karena alasan kemurnian cinta, berubah menjadi tertekan karena perilaku dominan Adam. Di sini, kita membaca perspektif kritik kedua. Feminisme – yang pada dasarnya adalah tema utama dan terutama karena sudut pandangnya adalah Hawa (permpuan). Posisi Hawa, sebagai perempuan menjadi kesadaran posisi di luar kebutuhan cintanya – yaitu sekadar menjadi pelengkap bagi kebutuhan Adam (pria). Tubuhnya yang seharusnya berjiwa, tiba-tiba menjadi kosong seperti sekadar properti yang bisa diperlakukan semaunya oleh yang memiliki. Pada fase ini, Hawa, seperti kata nabi kaum feminisme, Simon de Beauvior dalam The Second Sex adalah mahluk liyan atau ‘the other‘ bagi seorang pria.

Karena mahluk liyan maka ia adalah musuh yang harus dilenyapkan karena membawa sejarah buruk yang disimbolkan sebagai belalang sembah, di mana betina selalu memakan otak pejantannya hingga mati ketika bercinta. Hawa berada pada posisi awal sebagaimana Lacan sebut sebagai Penia (wanita) dalam mitologi cinta Yunani yang menginginkan Poros (pria) dengan menerima kekurangan Adam. Hawa, seperti halnya Penia, tak memiliki apa-apa untuk diberikan, kecuali kekurangan konstitutifnya, aporia. Dia memberikan kekurangannya, apa yang tidak dia miliki. Maksudnya, seperti kata Lacan, kunci untuk mencintai adalah dengan menerima kekurangan seseorang.

“Seseorang tidak dapat mencintai kecuali dengan menjadi non-haver, sekalipun ia memiliki” ( Seminar VIII , 7 Juni 1961).

Tapi, Hawa toh kemudian bangkit dari keadaan itu dan melawan karena menyadari pengorbanannya sia-sia. Hawa memilih menjadi eksistensialisme dari garis feminisme yang mencoba melawan dominasi Adam (laki-laki). Tapi cara Hawa bercerita, pada dasarnya disebakan oleh perlawanan yang dibangkitkan oleh karena tersia-sia, bukan kesadaran eksistesialisme murni.

Karena pada posisi awalnya, Hawa menerima posisinya dalam tradisi patriarkis. Ini seperti ketika Simon de Beauvior putus asa dengan perilaku kekasih sejatinya Jean-Paul Sartre yang tak mampu menjadikan dirinya satu-satunya tempat kembali, meskipun Sartre menyebutnya satu-satunya yang dicintai dan menikahinya secara batin. Simon akhirnya menerima Nelson Algren (novelis Amerika) sebagai kekasihnya (1947-1951) ketika datang di Amerika, dan kemudian tinggal bersama Claude Lanzmann (1952-1959) seperti ceritanya dalam Force of Circumstance. Demikian pula dengan Hawa yang mengatakan di akhir wawancara yang memperlihatkan perlawanannya atas ego Hawa ( pria ):

“…Dia tidak melakukannya untuk saya; untuk kami. Dia melakukan itu untuk dirinya sendiri. Untuk apa saya menerimanya? Saya rela kehilangan rumah dan siap menanggung masa depan anak-anak tanpa Adam. Kirimkan saja hadiah itu ke surga, untuknya bersenang-senang…”

Kesimpulan

Cerpen ini memiliki tema cinta yang hilang karena kebutuhan dan hasrat populer dan eksperimental yang merujuk pada hilangnya tata nilai dalam setiap individu dan masyarakat sosial. Adam datang pada Hawa ketika setelah sekian lama mereka tidak bercinta, dan ajakan itu pun dilakukan hanya karena sebuah kebutuhan sayembara bercinta eksperimental.

Eksperimental menjadi motif yang merujuk pada tema utama, di mana hasrat Adam yang mengebu-ngebu membuatnya melupakan rasa cinta dan rasa keadilannya terhadap istrinya Hawa, dan ini adalah fenomena kontemporer dan histroris berkaitan hubungan antara kaum pria yang dianggap patriarkis dam kaum perempuan yang menjadi bagian apa yang dimaksud Gayatri Spivak sebagai ‘subalteren’ (1988), yaitu kaum yang menjadi subordinasi kaum dominan (pria). Dan keduanya adalah menjadi  sumber dan simbol perlawanan kaum perempuan yang ditempatkan Adam hanya sebagai properti semata, dan akhirnya membawa warisan dosa yang menyengsarakan.

Dua karakter ini juga membawa jejak mitologis Adam dan Hawa yang terusir dari surga. Dengan demikian, ekspreimen sekaligus menjadi simbol untuk menujukkan sifat Adam (mansuia) yang selalu mencari dan menamai benda-benda asing di dunia barunya setelah terusir dari surga.

Gagasannya adalah membawa problem mitologis itu ke dalam kehidupan modern dan kontemporer, seperti halnya James Joyce membawa Odessey ke dalam Ullyses yang modern. Secara bentuk, cerpen ini disebut sebagai epistolary, yaitu cerita yang ditulis sebagai rangkaian dokumen. Teknik atau metode ini sudah ada sejak abad 18 lanpau. Pada umumnya adalah surat, berita, catatan harian.

Kita bisa menyebut nama-nama seperti Samuel Richardson yang menulis Clarissa (1748), Johann Wolfgang von Goethe yang menulis The Sorrows of Young Werther (1774) Fanny Burney oleh Evelina (1778), dan Mary Shelley yang menulis Frankenstein (1823). Pada akhirnya, AveusHar, seperti problem dalam cerpennya berupaya bereksperimen untuk menemukan hal baru, tapi seperti kata Charles H. Duell yang juga mengutip kutipan lama, ‘semua yang bisa ditemukan sudah ditemukan’ termasuk bentuk cerpen ini.

II

“Lanjutan Cerita yang Pernah Kau Dengar”

Dalam cerpen Lanjutan Cerita yang Pernah Kau Dengar, kita mendapatkan dua karakter yang berbeda. Ayahnya sebelum meninggal mewariskan toko untuk keduanya dengan pesan: “Janganlah kalian menagih hutang” dan“Janganlah kalian terkena sinar matahari ketika berangkat ke dan pulang dari toko.” Kedua anak tersebut, Si Sulung dan Si Bungsu mematuhi wasiat itu hanya dengan cara tafsir yang berbeda.

Si Sulung menjaga tokonya dan memutuskan tidak memberi hutang pada orang lain, dengan demikian ia tidak perlu menagih hutang. Dia juga tidak pernah terkena sinar matahari. Hidupnya menjadi kaya raya, karena semua orang membeli barangnya tanpa berhutang. Sedangkan si Bungsu dia mematuhi wasiat ayahnya secara harafiah, dia memberi hutang pada orang yang membutuhkan dan tidak menagih hutang yang diberikan. Dia juga tidak pernah terkena sinar matahari karena keluar pagi-pagi buta dan pulang ketika malam. Karena dia memberikan hutang dan tidak menagih akibatnya mengganggu ekonominya.

Ketika ibunya menjumpainya dalam keadaan nyaris bangkrut, ia menasehati agar meniru kakaknya. Tapi Si Bungsu enggan. Dia tak ingin menjadi orang lain seperti kakaknya. Dalam perenungannya, tiba-tiba muncul gagasan, yaitu bagaimana caranya mengundang kunang-kunang datang. Kunang-kunang di sini menjadi simbol pasar, seperti halnya kaum kapitalis membangun pasar mereka dengan cara membentuk persepsi masyarakat agar bersedia membeli produk mereka.

Tentu saja iklan adalah instrumennya, di mana iklan menjadi alat agar rasa orang termanipulasi untuk membeli produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tetapi di cerita ini, si Bungsu membawa dimensi sosial, atau menjadikan hutang yang tidak ditagih sebagai basis modal sosial. Dia mengatakan mimpinya pada setiap orang dan meminta mereka memberi tanda tangan persetujuan. Dari modal itu, ia kemudian mencari seorang investor. Maka, demikianlah, dia membangun kotanya dari semua jenis usaha, baik itu yang disebut halal atau haram dari perspektif agama dan hukum.

Seperti Al Capone yang membangun Las Vegas, atau Don Coreone yang menjadi malaikat penolong dalam masyarakat sekitarnya dalam novel The Godfather karya Mario Puzo (1969). Dalam cerita ini tak ada informasi apapun tentang latar perspektif agama dan hukum negara. Jadi, usaha itu menjadi besar dan mampu memberi banyak rezeki pada setiap orang yang membutuhkan.

Si Bungsu mungkin saja diprotes oleh sebagian orang yang tidak setuju dengan bisnisnya seperti klub malam dan pelacuran, tapi dia bisa bertahan karena semua orang sudah setuju dengan bukti tanda tangan mereka di waktu lalu. Si Bungsu membuktikan mampu menjadi sukses dan bertahan daripada kakaknya yang bangkrut – karena usahanya dilandasi oleh ketulusan sejak awal dan didukung oleh semua warganya yang menggapnya sebagai malaikat.

Cerpen ini, ditulis dengan model dongeng yang mengingatkan kita pada cerita pendek Leo Tosltoy yang berjudul Ivan the Fool  (1886) sebagai nada dan struktur karakter. Aveus Har juga mengemas dengan teknik metafiksi, yaitu dengan menyertakan kesadaran pembaca bahwa apa yang dibaca hanyalah fiksi atau dongeng. Hanya saja, Dalam Ivan the Fool, cerita dibangun sebagai perumpaan untuk membalut kritiknya terhadap problem militerisme dan materialisme sekaligus membawa perspekti kekristenan di abad 19, sedangkan dalam cerpen ini dibangun dengan prinsip moral modern sebagai pelajaran tentang prinsip-prinsip sejahtera secara humanisme yang tentu saja harus sekuler.

Di mana hubungan manusia harus didasari oleh keterkaitan rasa antarmanusia yang sifatnya konkret. HJ Blackham, misalnya mengatakan bahwa humanisme adalah suatu konsep yang menitikberatkan pada perbaikan kondisi sosial kemanusiaan, peningkatan otonomi dan harkat martabat seluruh manusia. (Blackham, 1974). Dengan ikatan itu, kesejahteraan bisa dibangun bersama.

Dalam cerita ini kita juga menangkap simbol-simbol yang diwakili oleh dua karakter si Sulung dan Si Bungsu yang masing-masing merepresentasikan tokoh secara berbeda, meskipun masing-masing mengakui menaati wasiat ayah mereka. Si Sulung berpikir stratergis, namun linier, sedangkan Si Bungsu, tulus tetapi berpikir lateral yang stratergis. Kita juga menemukan kunang-kunang muncul berulang sebagai motif yang merujuk pada tema utama, yaitu simbol pasar besar. Baik itu orang-orang yang membutuhkan barang-barang kebutuhan fisik dan nonfisik.

-Ranang Aji SP

POLITIK DAN SASTRA REPRESENTATIF
ANALISIS DUA CERPEN PANJI SUKMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories