KRITISME W.S RENDRA SEBAGAI MODE

Saya mungkin tak terlalu beruntung untuk bisa bertemu Rendra, kecuali hanya dua kali yang tak cukup untuk bercakap panjang. Ketika kemudian saya menginap di Bengkel Teater di tahun 2010 selama seminggu, Rendra sudah tiada. Tapi saya masih cukup beruntung bisa membaca buku-bukunya dan berteman dekat dengan beberapa muridnya untuk mendiskusikan pelbagai pikiran W.S Rendra. Ketika Ken Zuraida bersama Bengkel Teater Rendra tengah mementaskan “Bib Bob” di beberapa kota di sekitar tahun yang sama, saya diberi kesempatan untuk menulis esai di Minggu Pagi sebelum mereka pentas di Yogyakarta dan Magelang. Saya mendapatkan masukan tentang apa itu “Bib Bob”. Tetapi, dalam esai ini saya tak membicarakan Repertoar “Bib Bob” yang sempat sukses pementasannya di New York dan Jakarta, tetapi posisinya sebagai mode penyair yang kritis.

Kritisme

Jika kita membaca biografi dan puisi-puisi Rendra yang dia tulis, pada faktanya kita menemukan sikap kritis itu sejak muda. Misalnya, dalam laporan Tempo yang terbit pada 27 Maret 1971, majalah itu menulis di dalam sebuah acara para sastrawan muda di Surakarta 1953, Rendra tidak saja mengritik para epigon Chairil Anwar tetapi Chairil Anwar sendiri. Untuk para epigon Chairil Anwar, Rendra mengatakan bahwa menjalang untuk menjalang adalah lain soalnya.  Hanya meniru kejalangannya, tetapi bukan dalam karya itu adalah kebodohan, katanya. Puisi Chairil Anwar pun, misalnya “Ajakan Kepada Kawan” disebutnya memiliki konsekuensi yang lebih parah ketimbang bom atom.

“Konsekuensi dari ajakan melepas nafsu Chairil Anwar dalam sajaknya “Kepada Kawan”  adalah penghapusan undang-undang, yang berarti lebih dahsyat dari bom atom.”

Seorang penyair, tentu saja, seperti kata Henry James dalam The Art of Fiction adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat yang tak terlihat dari orang lain. Dan itulah esensi dari sebuah kritik, melihat yang tak terlihat.  Di usia itu, saya menduga bahwa W.S Rendra belum membaca The Art of Fiction – artinya kemampuan kritisnya bukan karena kesadaran pengetahuan, tetapi bakat alam yang dikombinasikan dengan pengetahuannya tentang filsafat Jawa yang sudah dia terima dari kecil. Misalnya, kritiknya pada puisi “Kepada Kawan” sebagai memiliki konsekuensi yang lebih dahsyat ketimbang bom atom berdasarkan tata nilai atau moral yang dia pahami sebagai orang Jawa. Di dalam sajak itu, Chairil Anwar jelas mengajak untuk membebaskan diri dari semua tata nilai sebagai orang Timur atau siapa saja yang memiliki agama. Dalam dua bait di bawah ini Rendra membayangkan konsekuensi yang lebih merusak dari bom atom kepada masyarakat.

Jadi

Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,

Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,

Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,

Jangan tambatkan pada siang dan malam

Dan

Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,

Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.

Tidak minta ampun atas segala dosa,

Tidak memberi pamit pada siapa saja !

Sikap kritis atau ketajamannya dalam melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain itu menjadi semakin terasah dan tajam, terutama terbaca dalam hampir seluruh puisi-puisinya, baik sajak-sajak dalam bentuk balada yang menyangkut dengan problem khidupan manusia yang berhadapan dengan nasibnya atau manusia yang berhadapan dengan problem sosialnya. Demikian pula Rendra begitu kritis dalam soal politik, tetapi Rendra tidak pernah berpihak pada tokoh politik yang bekerja untuk kekuasaan. Rendra bersikap impersonal, tak memihak pada salah satu kubu dalam pertarungan politik. Semua puisinya lebih kepada memersoalkan apa yang seharusnya dipertanyakan keadaannya, atau sesuatu yang dianggap bengkok di dalam semua kebijakan politik.

Sajak Sebatang Lisong, misalnya, dia mempertanyakan keadaan yang buruk dalam masyarakat, bukan saja karena ulah para penguasa yang memberikan hak istimewa para pengusaha (cukong), tetapi juga kesadaran yang rendah para pendidik dan bahkan seniman sendiri yang tak peduli terhdap keadaan dalam masyarakat yang terhimpit oleh rasa sakit ketidakadilan, tapi justru dipersalahakan oleh para tekhnokrat yang memuja rumus-rumus asing tanpa pernah tahu apakah itu berguna bagi kehidupan orang banyak. Jadi di bait akhir Rendra bertanya:

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat.

Apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

Memperlakukan Tradisi

Dalam kebudayaan yang lebih luas, misalnya, Rendra juga melihat bahwa Indonesia membutuhkan upaya yang khusus dan serius agar terbentuk kebudayaan Indonesia yang kuat berdasarkan potensi pikir khas Indonesia, seperti halnya Sanusi Pane rumuskan dalam artikelnya “Menyatukan Faust Dengan Arjuna”.  Sebagai manusia yang hidup dan dinamis, manusia menciptakan tradisi sebagai pedoman nilai hidup dalam masyarakat. Tetapi tradisi tidal boleh menjadi barang yang mati. Dalam artikelnya “Mempertimbkan Tradisi” Rendra menulis bahwa “Tradisi yang tidak mampu berkembang adalah tradisi yang menyalahi fitrat hidup. Fanatisme yang menghalangi perkembangan tradisi adalah sikap yang menghalangi hidup dan memihak kepada kematian. Rendra melihat bahwa tradisi bukan obyek yang mati, tetapi sebagai kebudayaan ia terus berkembang dan hidup. Pendapat Rendra ini bahwa tradisi adalah bukan benda mati, tetapi sesuatu yang berkembang selaras dengan pendapat T.S Eliot dalam Tradition and the Individual Talent” (1919) yang mengatakan bahwa “Tradisi tidak diwariskan, dan jika Anda menginginkannya, Anda harus mendapatkannya dengan kerja keras.” Tradisi menurut Eliot, seperti halnya Rendra, bukanlah tentang mengikuti masa lalu secara membabi buta. Sebaliknya, tradisi melibatkan kesadaran sejarah yang mendalam, di mana penyair memahami tempat mereka dalam rangkaian karya sastra. Mereka harus terlibat secara kritis dengan masa lalu untuk menciptakan karya baru yang berhubungan dengan sejarah sastra ini.

Pikiran Rendra dan kekritisannya, dengan demikian, bagi saya dan untuk semua generasi muda adalah mode yang bisa menjadi pegangan dalam konteks bersastra atau berkebudayaan secara umum.

 

Ranang Aji SP adalah sastrawan dan tinggal di Magelang.

 

MEMBACA PENILAIAN BAIK BURUK FIKSI SASTRA
TENTANG KEMANDIRIAN DAN KRITIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories