MENYATUKAN FAUST DENGAN ARJUNA

“Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dengan Arjuna. Memadukan materialisme, intelektualisme, dan individualisme dengan spiritualisme, perasaan, dan koletivisme”.

-Sanusi Pane, Persatuan Indonesia, 1935-

 

Hal pertama yang mesti saya tekankan dalam esai ini adalah pandangan Sanusi Pane yang berbeda dengan Sutan Takdir Alisyabana dalam polemik kebudayaan di tahun 1935. Sutan Takdir Alisyabana, seperti diteruskan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang di Majalah Siasat (1950) melihat bahwa kebudayaan Indonesia harus berkiblat pada Barat. Sedangkan Sanusi Pane berpandangan bahwa Indonesia harus menjadi diri sendiri atau merujuk pada Timur.

Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Sanusi Pane menolak pengaruh Barat sepenuhnya. Karena itu dalam artikelnya “Persatuan Indonesia”, dia mencoba menawarkan landasan menuju Indonesia baru dengan sebuah pertanyaan dasar demi mendapatkan formula yang tepat, yaitu “bagaimanakah kita harus memperbarui kebudayaan kita sehingga sesuai dengan perasaan kebangsaan sekarang?”

Dalam paragraf berikutnya, Sanusi menjawab pertanyaannya dengan menawarkan formula, yaitu:

“Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dengan Arjuna. Memadukan materialisme, intelektualisme, dan individualisme dengan spiritualisme, perasaan, dan koletivisme.”

Bagi saya, pandangan itu memiliki esensi yang subtansial sebagai dasar pengembangan dan pembentukan karakter kebangsaan Indonesia yang beragam seperti halnya dipahami Sanusi Pane. Bahwa pada faktanya kita memiliki beragam nilai dan karakter dari Sabang hingga Merauke yang bisa disatukan sebagai nilai bersama untuk mendasari karakter Indonesia meskipun kemudian kita juga menerima apa yang penting dari Barat untuk kehidupan kita bersama. Sanusi, mengatakan dengan jelas bahwa kebudayaan yang “baru” itu bersendikan kebudayaan “lama”. Begitu prinsip yang harus dipahami.

Gagasan seperti yang ditawarkan Sanusi Pane itu, faktanya terbukti berhasil membawa bangsa-bangsa lain di luar Indonesia yang juga berpikir sama menjadi besar dan maju. Setidaknya kita bisa melihat Jepang melakukan hal seperti itu. Mereka meskipun membawa pikiran Barat ke dalam kehidupan yang lebih modern, tetapi tetap bertahan pada nilai-nilai Jepang. Kita mengenal itu sebagai semangat Wakon Yosai atau ‘Semangat Jepang, Pembelajaran Barat’. WG Beasley, misalnya, dalam bukunya The Rise of Modern Japan, menulis bahwa meskipun Jepang merangkul pengetahuan Barat, di mana teknologi Barat digunakan tetapi semangat nilai Jepang tidak pernah dikompromikan. Semangat itu bisa terlihat hasilnya hingga saat ini.

Tidak hanya di Asia, bahkan di Amerika, Ralph Waldo Emerson, sastrawan Amerika, menulis esai berjudul Self-Reliance di tahun 1841 tentang kesadaran menjadi diri sendiri. Dalam esainya Emerson menulis pentingnya kemandirian Amerika dan berkarya melalui lingkungan mereka sendiri:

“… Dan mengapa kita harus meniru model Doric atau Gothic? Keindahan, kenyamanan, keagungan pemikiran, dan ekspresi kuno sama dekatnya dengan kita, dan jika seniman Amerika akan belajar dengan harapan dan cinta akan hal yang tepat untuk dilakukan olehnya, dengan mempertimbangkan iklim, tanah, panjangnya hari, keinginan masyarakat, kebiasaan dan bentuk pemerintahan, dia akan menciptakan sebuah rumah yang di dalamnya semua hal tersebut akan cocok, dan selera dan sentimen juga akan terpuaskan…”

Bukankah Sanusi Pane juga menyerukan semangat yang sama seperti itu ketika berpolemik dengan Sutan Takdir Alisyahbana? Sayangnya seruan itu tak dianggap atau tak layak menjadi bahan yang disuarakan oleh misalnya kelompok Gelanggang yang justru menyerukan sebaliknya. Surat pernyataan itu dimulai dengan klaim sebagai ahli waris yang sah atas kebudayaan dunia. Kemudian, dalam paragraf tiga dari surat pernyataan Gelanggang yang dimuat di Majalah Siasat Oktober 1950 kita mendapatkan pernyataan sikap sebagai berikut:

“Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.”

Pernyataan itu, terdengar begitu agung, tetapi sesungguhnya terasa sebagai orang yang mengidap megalomania dan justru mencerminkan kondisi inferior karena begitu mengagung-agungkan pikiran ‘humanisme universal’ atau konsep Barat yang sesungguhnya justru menelikung gagasan kita sendiri. Meskipun saya tidak juga menganggap semua pikiran itu salah sama sekali, tetapi menjadi seratus persen salah ketika kita melihat bagaimana efek pikiran itu bagi produk kebudayaan, dan terutama sastra kita yang pada faktanya lebih menjadi pembebek Barat ketimbang menghasilkan sastra khas Indonesia yang bisa menjadi mode di dunia.

Sebaliknya, ketika pernyataan Gelanggang yang mendewakan Barat disuarakan dengan bangga, Amerika Latin di tahun 1949 melalui Alejo Carpentier, justru dengan yakin menolak Barat. Dalam pengantar novelnya The Kingdom of This World, Alejo dengan percaya diri menyerukan semangat ‘Lo Real Maravilloso Americano’, yaitu semacam semangat untuk memuliakan apa yang mereka miliki. Di dalam pengantar novelnya, Alejo menulis sikap perlawanannya itu sebagai berikut:

“…Surealisme bagi kami sudah selesai, dengan proses imitasi yang sangat aktif lima belas tahun yang lalu, kehadiran yang dikelola secara salah. Tetapi kita meninggalkannya dengan kesadaran ‘realitas luar biasa dengan sifat yang sangat berbeda, semakin gamblang dan dapat dilihat, yang mulai berkembang biak dalam novel-novel beberapa novelis muda di benua kita.”

Dengan semangat itu kemudian di Amerika Latin melahirkan aliran sastra yang kemudian disebut sebagai ‘Realisme Magis” dan dikokohkan oleh karya Gabriel Gracia Marquez, Cien años de soledad (Seratus Tahun Kesunyian) di tahun 1967 yang kemudian menjadi mode dan diikuti oleh banyak penulis di dunia hingga saat ini.

Jepang pun jauh sebelum Amerika Latin, sastranya yang memang sudah berabad-abad lalu terjaga, menjadi semakin kuat dengan semangat ‘Wakon Yosai’ melahirkan pengaruh besar pada sastra modern yang dominan di dunia. Tidak saja Tanka dan Haiku memengaruhi puisi Ezra Pound sebagai motor dalam gerakan modernisme, tetapi juga melahirkan aliran novel baru yang disebut Shishōsetsu atau I-Novel di tahun 1900. Dan pengaruh sastra Jepang di dunia, terutama di Amerika diakui. Pengakuan itu setidaknya tercatat secara akdemik oleh para akademisi Havard.

“Sastra Jepang dalam dua puluh tahun terakhir ini telah menjadi bagian penting dari sastra dunia. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kesusastraan kita sendiri juga telah dipengaruhi oleh kesusastraan Jepang” (Thornber, 2006).

Melalui kesadaran menjadi diri sendiri, seperti juga disuarakan Sanusi Pane, sastra Jepang pun hingga saat ini terbukti masih mampu menghasilkan sastra yang kuat dan berpengaruh, tidak saja pada pasar sastra, tetapi juga penghargaan sastra tertinggi seperti Nobel. Semua capain itu, tentu saja berkat kesadaran untuk menjadi diri sendiri – yang kemudian juga didukung oleh sistem yang kuat. Dalam konteks sistem ini, misalnya, kita mengenal apa yang dikenal sebagai Bundan.

Bundan adalah istilah dalam sastra Jepang yang merujuk pada sistem kelompok atau perkumpulan sastra yang melibatkan pengarang, kritikus, dan penerbit mapan. Melalui sistem ini para sastrawan dibantu berkembang hingga mendapatkan penghargaan sastra seperti Akutagawa hingga Nobel selama mereka dinilai mampu menjaga nilai-nilai sastra Jepang. Begitu ketatnya ‘Bundan’ menjaga nilai-nilai sastra mereka, bahkan sastrawan yang memiliki popularitas besar di dunia seperti Haruki Murakmi pun tak diakui oleh Bundan karena dianggap merusak nilai sastra Jepang. Dalam sebuah wawancara, Haruki Murakami mengakui itu:

“Saya adalah orang yang aneh dibandingkan dengan penulis lain, dan hampir sepenuhnya dikucilkan oleh sistem Bundan (serikat sastra) di Jepang. Dunia seni sastra [di Jepang] tidak melihat nilai dalam diri saya, dan tidak menyukai saya. Mereka mengatakan bahwa saya akan menghancurkan tradisi sastra Jepang” (Strecher, 2014).

Di Indonesia, sistem semacam ini mungkin saja juga ada bila kita cermati dengan seksama, terutama dalam lingkaran komunitas besar sastra di Jakarta yang didukung media ternama. Upaya memunculkan nama-nama tertentu begitu terlihat bersamaan dengan upaya politik kanonisasi sastra, seperti tulis Saut Situmorang dalam “Politik Kanonisasi dalam Sastra Indonesia” (2010). Dengan demikian apakah sistem Bundan adalah politik kanonsisasi sastra Jepang? Tentu saja iya, hanya saja gerakan politik kanon mereka mendasarkan pada semangat nilai-nilai Jepang, seperti pula dipikirkan Sanusi Pane, sedangkan upaya kanonisasi sastra di Indonesia (Jakarta) lebih pada upaya pengekalan nilai-nilai Barat semata, persis yang disuarakan dalam pernyataan Gelanggang. Keduanya jelas memperlihatkan mutu berbeda sebagai kesadaran kebangsaan.

Sekali lagi, saya tidak menganggap itu salah sebagai sebuah pilihan kemanusiaan. Hanya saja dalam nalar saya, ketika ingin bersaing dalam pertarungan kebudayaan dunia, dan bila menyadari bahwa kita adalah bangsa besar, tentu saja kita mesti punya sikap sendiri. Bukan justru bangga hanya sekadar menjadi pengekor Barat. Kita toh juga sadar bahwa tak ada kebudayaan yang sepenuhnya murni, bahwa tidak ada kebudayaan yang tidak terpengaruh oleh dunia luar. Namun, dengan sebuah proses alami seperti Harold Bloom sebut sebagai “misprision” semua itu tetap akan menghasillam suara atau kebudayaan unik kita sendiri. Maka, gagasan menyatukan Faust dan Arjuna adalah lebih ideal. Setidaknya, tiga contoh keadaan di atas adalah bukti, bagaimana seharusnya gagasan Sanusi Pane tentang memadukan Faust dan Arjuna dipertimbangkan kembali dalam alam pikiran kita saat ini. Tentu saja kita membutuhkan keseimbangan nilai untuk membentuk karakter kebudayaan kita.

Kita bisa menjadi Faust yang haus akan materialisme dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membimbing kita pada penguasaan yang bersifat material, keduniawian seperti pula diimplementasikan oleh semangat Tan Malaka dalam Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika)., tetapi kita juga mesti menempatkan semangat Arjuna sebagai dasar dari semangat ketimuran yang meletakkan spitritualisme sebagai pondasi hidup. Karena toh kita tidak hanya memiliki karakter yang tenang seperti gambaran dalam masyarakat agraris, tetapi juga semangat yang menyala dan dinamis seperti masyarakat pesisir. Melalui semangat Faust dan Arjuna itu pula, kita juga bisa merumuskan bagaimana kebudayaan Indonesia, dan khususnya sastra kita dibentuk. Dengan demikian, kita memiliki pijakan nilai yang kuat dan unik.

-Ranang Aji SP

 

References

 

Beasley, W. G. (1990). The Rise of Modern Japan. New York City: St. Martin’s Press.

Bloom, H. (1973). The Anxiety of Influence: A Theory of Poetry. Oxford University Press.

Carpentier, A. (1976). De Lo Real Maravilloso Americano. Buenos Aires: Calicanto Publishing House.

Emerson, R. W. (1993). Self-Reliance and Other Essays. In Self-Realiance, 1841. Mineola, New York, United States: Dover Publications.

Majalah Siasat. (2022, Oktober 22). https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Kepercayaan_Gelanggang. Retrieved from https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Kepercayaan_Gelanggang

Mihardja, A. K. (1950). Polemik Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Situmorang, S. (2010, 8 18). BOEMIPOETRA. Retrieved from https://boemipoetra.wordpress.com/2010/08/18/politik-kanonisasi-sastra-dalam-sastra-indonesia/: https://boemipoetra.wordpress.com

Strecher, M. C. (2014). The Forbidden Worlds of Haruki Murakami. Minneapolis, MN: University of Minnesota Press.

Thornber, K. (2006). Japanese Literature in Early Twentieth-Century East Asia: The Enpon Boom, the Uchiyama Shoten, and the Growth of Trans-Asian Literary Networks. Reading Material: The Production of Narrative genres and Literary Identities (hal. 2-5). Waltham, MA: PAJLS.

Leave A Comment

(Sat - Thursday)
(10am - 05 pm)
Shopping Cart (0 items)