POLITIK DAN SASTRA REPRESENTATIF

Di tahun 1628 dan 1829, Sultang Agung mengirim pasukan untuk merebut Batavia dari VOC saat Gubenur Jendral J.P. Coen berkuasa. Serangan pertama gagal dengan menyakitkan, dan serangan kedua tetap gagal, meskipun membawa kemajuan, setidaknya mampu menamatkan riwayat J.P. Coen. Kegagalan pertama akibat salah berhitung, dan kegagalan kedua akibat ketakmampuan menjaga lumbung-lumbung pangan yang dipersiapkan. Kegagalan itu, setidaknya bisa kita bayangkan sebagai tidak matangnya persiapan stratergi. Sejarah ini, mungkin tak berhubungan dengan sastra, tetapi jelas punya relasi subtansi ketika membicarakannya sebagai stratergi menduniakan sastra Indonesia. Kata kerja menduniakan membawa makna yang bersifat politis. Sama halnya Sultan Agung menyerang Batavia.

Merebut pengaruh atau perhatian publik sastra dunia adalah upaya politik. Itu pertama yang mesti disadari. Kritikus satra Prancis, misalnya, menemukan itu dalam konteks Eropa lama. “Persaingan intelektual yang muncul selama masa Renaisans di Eropa didirikan dan dilegitimasi melalui perjuangan politik” (Casanova, 2004). Jadi, bagaimana pun itu adalah hal yang niscaya. Sastra dunia, tidak sepenuhnya seperti maksud Goethe ketika menawarkan paradigma ‘sastra dunia’ (weltliteratur) sebagai niat menghindari konflik antarbangsa. Karena gagasan awalnya adalah akibat kecemasan akan konflik di antara negara dan adanya xenophobia-nasionalisme (Pizer, 2019).

Artinya tujuan dari gagasan Goethe adalah perdamaian. Namun, perdamaian melalui sastra adalah sisi lain. Sisi lainnya adalah pertarungan antar negara. Sejarah mencatat, misalnya Perang Dingin di tahun 1950-an melibatkan kebudayaan untuk berebut pengaruh antara Barat dan Timur, membuat kita harus menyadarinya. Kita bisa melihat, misalnya K-Pop menyebar ke seluruh dunia dan memengaruhi setiap anak muda, atau sastra Jepang mampu memengaruhi dunia, bahkan Amerika, seperti diakui Thornber (2006) bahwa “sastra Jepang dalam dua puluh tahun terakhir ini telah menjadi bagian penting dari sastra dunia. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kesusastraan kita sendiri juga telah dipengaruhi oleh kesusastraan Jepang”

Keberhasilan mereka dalam pertarungan kebudayaan, tentu bukan terjadi secara kebetulan. Amerika Serikat, misalnya, melalui CIA melakukan manipulasi pasar dengan membeli lukisan Jackson Pollock dengan nilai tinggi untuk merebut pengaruh di dalam seni dunia; dan pada akhirnya mampu membuat tren di dunia melalui lukisan abstrak-ekspresionisme. Artinya, seni dan sastra pada saat ini, harus disadari sebagai alat politik negara dalam pertarungan kebudayaan. Kesadaran politik itu harus menjadi dasar ketika kita ingin menduniakan sastra Indonesia.

Kesadaran selanjutnya adalah mengevaluasi keadaan sastra kita dan memperbaiki apa yang kurang guna mendorong potensi muncul ke permukaan, hingga akhirnya sastra Indonesia memiliki privilese. Dalam evaluasi ini, pertanyaan dasarnya adalah apakah sastra Indonesia memiliki kelebihan, keunikan, dan sekaligus otentisitasnya sendiri? Saya pribadi menilai apa yang kita miliki masih sebatas potensi dan cita-cita. Potensi kita adalah memiliki banyak sastrawan berbakat dan lingkungan beragam dengan pelbagai masalahnya yang bisa diceritakan. Hanya saja, faktanya sastra Indonesia masih seutuhnya menjadi subordinasi Barat. Sastra Indonesia hanya mengikuti seluruh konvensi sastra Barat. Kita masih sekadar mengikuti bentuk romantisme, realisme, modernisme, pascamodern, dan realisme magis. Kita juga masih menggunakan standar Barat dalam menilai isu atau wacana dalam sastra. Akibatnya adalah hilangnya kemampuan kreativitas untuk membuat yang benar-benar baru untuk dipertarungkan. Kita bahkan mengabaikan masalah sosial kita sendiri dan bangga mengikuti isu yang disetir Barat. Akhirnya sastra Indonesia kehilangan pijakan realitas sosiologis dan historis. Sastra kita tidak otentik, atau dalam bahasa Arif Budiman, “sastra Indonesia tidak berpijak di buminya sendiri.”

Evaluasi intropektif ini pun pernah menjadi wacana Arif Budiman (Soe Hok Djien) di tahun 1984. Menurutnya, sastra Indonesia hanya tunduk pada sastra Barat. Ketundukkan itu mengakibatkan hilangnya visi pada sastra Indonesia. Kita tak berani memiliki pendapat kecuali menerima standar Barat. Seruan ‘humanisme universal’ menjadi standar baku di dalam pikiran setiap sastrawan. Meskipun, pada faktanya tak ada nilai universal seperti diklaim barat. Nilai indah, misalnya, akan selalu berbeda pada setiap ruang dan waktu. Koteka di Papua, misalnya, menjadi relatif bagi suku lain. Di zaman yang disebut kampung global sekalipun seperti saat ini, perbedaan rasa, nilai setiap bangsa, suku, dan agama tetap tidak akan bersifat universal di luar yang sudah dipaksakan ‘sama’ oleh kapitalisme akhir. Klaim universalisme adalah politis. Dari keadaan itu, Arif Budiman menawarkan gagasan ‘sastra kontekstual’. Sebuah konsep yang membawa tujuan agar sastra Indonesia menjadi dirinya sendiri. Karena apa yang dia lihat adalah “gejala keterasingan para pengarang Indonesia terhadap lingkungannya.” (Budiman, Mencari Sastra Yang Berpijak di Bumi: Sastra Kontekstual, 1985)

Semua keadaan itu membuat potensi besar yang kita miliki menjadi selalu terpendam. Dalam konteks ini, saya akan membuat perbandingan dengan keadaan sastra Amerika Latin. Sebuah benua yang dihuni oleh negara-negara bekas koloni seperti Indonesia. Tetapi mereka berani menolak dominasi Eropa dalam sastra dan melahirkan aliran yang disebut ‘realisme magis’, dan menjadi dominan di dunia. Alejo Carpentier, misalnya, sastrawan Kuba, tokoh awal aliran realisme magis, dalam catatan kaki esainya De Lo Real Maravilloso Americano (1976) menegaskan sikapnya itu:

“…Surealisme bagi kami sudah selesai, dengan proses imitasi yang sangat aktif lima belas tahun yang lalu, kehadiran yang dikelola secara salah. Tetapi kita meninggalkannya dengan kesadaran ‘realitas luar biasa’ dengan sifat yang sangat berbeda, semakin gamblang dan dapat dilihat, yang mulai berkembang biak dalam novel-novel beberapa novelis muda di benua kita.”

Carpentier berdiri tegak dan percaya diri, berteriak bahwa surealisme adalah jenis tipuan sastra dan menolak dominasinya. Dia juga sangat percaya dengan potensi yang mereka miliki. Membuang surealisme Eropa, dan menggantinya dengan apa yang dia sebut ‘marvelous realism’ Amerika Latin. Sebuah istilah awal sebelum kemudian menggunakan realisme magis dari Franz Roh seorang kritikus seni rupa Jerman dalam bukunya Nach Expressionismus: Magischer Realismus (1925). Setelah itu, di tahun 1967, lahir karya dalam bentuk realisme magis paling berpengaruh di dunia, Cien Años de Soledad (Seratus Tahun Kesunyian) oleh Gabriel Gracia Marquez. Para penulis di pelbagai negara pun ramai-ramai mengikutinya. Bahkan Amerika Serikat yang menjadi pusat pergerakan sastra modern dan pascamodern tak bisa menghindar dari pengaruh itu. Toni Morrison, misalnya, peraih Nobel (1993), menulis novelnya Beloved (1987), sebagai realisme magis. Demikian pula Salman Rusdhie yang menulis Midnight’s Children, atau Eka Kurniawan yang menulis “Cantik Itu Luka”.

Semua gambaran itu sudah seharusnya kita pelajari sebelum menduniakan sastra Indonesia. Hanya dengan kesadaran itu pintu dunia akan terbuka. Bila kita mau mencermati apa yang membuat sastra di luar Barat memiliki privilese seperti Amerika Latin, Jepang atau Cina, saya kira adalah keyakinannya terhadap apa yang dimiliki. Sastra Jepang, misalnya, di luar mereka juga menyerap sastra asing, mereka memperlakukan sastra asli mereka secara mulia. Akibatnya, pengaruhnya, tidak saja seperti diakui Thornber dalam kurun dua puluh tahun terakhir (2006), tetapi bahkan ketika gerakan modernism tengah merangkak di awal abad 20. Haiku, misalnya, memengaruhi bentuk puisi imagisme Ezra Pound di sekitar tahun 1912. Melalui Tōson Shimazaki dan Katai Tayama (1906) mereka mengembangkan bentuk fiksi yang disebut shishosetsu yang kemudian diterjemahkan dalam Inggris sebagai I-Novel. Sebuah bentuk narasi yang bersifat autobiografi dengan sudut pandang narator orang pertama, seperti lazim digunakan dalam prosa modernisme. Meskipun, beberapa kritikus mencurigai itu sebagai serapan dari naturalisme abad 19, tetapi toh itu terbantahkan, dan Barat harus mengakuinya. Demikian pula, misalnya Mo Yan, sastrawan Cina peraih Nobel 2012, dalam pidatonya di Swedia, dia mengatakan bahwa teknik menulisnya adalah tradisi Timur yang disempurnakan.

“Tentu saja, kembalinya saya ke tradisi saya bukan tanpa modifikasi. Sandalwood Death dan novel-novel berikutnya adalah pewaris dari tradisi novel klasik Tiongkok yang disempurnakan dengan teknik-teknik sastra Barat.”

Untuk itu, agar tidak sekadar menjadi mimpi yang hampa, dengan kesadaran penuh sastra Indonesia harus dibenahi. Sastra Indonesia harus mampu membangun bentuknya sendiri dan melakukan klaim pada dunia. Bagaimana caranya? Jika selama ini bentuk sastra Indonesia tidak memiliki pola karena bersifat acak – di mana setiap penulis menulis untuk menjadi siapa dalam acuan tren sastra yang berkembang di Barat (dan tentu saja itu tak bisa dihindari), namun, harus tetap diupayakan lahir sastra yang representatif. Untuk itu harus kanon sastra tertentu sebagai representasi sastra Indonesia. Dengan demikian, kita memiliki sesuatu untuk ditawarkan.

Penting pula ada semacam lembaga yang menjalankan sistem dalam sastra, seperti tradisi ‘bundan’ di Jepang. Sebuah sistem yang memiliki pengaruh besar dan menentukan bagaimana representasi bentuk sastra Jepang, termasuk pengaruhnya pada akses pasar dan penghargaan sastra (Miller, 2010). Sebuah kelompok sastra informal yang berpengaruh besar, semacam posisi “Paus Sastra Indonesia H.B Jassin” di masa lalu. Di samping memiliki peran yang bisa mengatur dan membangun jaringan sastra internasional untuk menyebarkan sastra Indonesia. Sebuah laku aktif seperti dilakukan ‘bundan’ di Amerika, Korea, dan Cina yang dikenal sebagai “enpon boom”. Menjual buku fiksi dengan harga murah, satu yen. (Thornber) Stratergi itu terbukti berhasil. Apakah kita sudah melakukan itu? Pada faktanya, hingga saat ini kita belum memiliki itu, terutama lembaga yang secara khusus menyebarkan karya sastra Indonesia. Sejauh yang saya tahu, saat ini hanya Dalang Publishing di Amerika yang melakukannya secara mandiri. Penerbit itu dibuat oleh Lian Gouw (85 tahun) di tahun 2012. Sebuah penerbit yang didedikasikan untuk menyebarkan sastra Indonesia di Amerika. Tentu saja kita membutuhkan jaringan semacam itu untuk mendukung penyebaran sastra Indonesia.

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa untuk mencapai privilese di dunia, kita membutuhkan kesadaran politis dan keyakinan terhadap apa yang kita miliki. Dengan begitu, kita bisa mengolah sastra Indonesia sebagai bentuk yang berbeda. Sebuah bentuk representatif sastra Indonesia, baru kemudian menawarkannya pada dunia.

-Ranang Aji SP

 

References

Budiman, A. (1985). Mencari Sastra Yang Berpijak di Bumi: Sastra Kontekstual. Dalam A. Budiman, & A. Heryanto (Penyunt.), Perdebatan Sastra Kontekstual (Vol. 1, hal. 97). Jakarta: Cv. Rajawali.

Budiman, A. (1985). Sastra yang Berpublik. Dalam A. Budiman, & A. Heryanto (Penyunt.), Perdebatan Sastra Kontekstual (Vol. 1, hal. 83). Jakarta: Cv Rajawali.

Carpentier, A. (1976). De Lo Real Maravilloso Americano. Buenos Aires: Calicanto Publishing House.

Casanova, P. (2004). The World Republic of Letters. (M. DeBevoise, Penerj.) Cambridge, Massachusetts: Havard University Press.

Miller, J. S. (2010). The A to Z of Modern Japanese Literature and Theater. Lanham, Maryland: Scarecrow Press, Inc.

Pizer, J. D. (2019). Goethe’s World Literature Paradigm: From Uneasy Cosmopolitanism to Literary Modernism. In A Companion to World Literature.

Saunders, F. S. (1995, October Sunday). Modern Art Was CIA ‘weapon’. Dipetik September 7, 2023, dari https://www.independent.co.uk/news/world/modern-art-was-cia-weapon-1578808.html

Thornber, K. (2006). Japanese Literature in Early Twentieth-Century East Asia: The Enpon Boom, the Uchiyama Shoten, and the Growth of Trans-Asian Literary Networks. Reading Material: The Production of Narrative genres and Literary Identities (hal. 2). Waltham, MA: PAJLS.

 

 

 

 

KASUR TANAH DAN MASALAHNYA
ANALISIS DUA CERPEN AVEUSHAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories