MENYATUKAN FAUST DENGAN ARJUNA

“Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dengan Arjuna. Memadukan materialisme, intelektualisme, dan individualisme dengan spiritualisme, perasaan, dan koletivisme”. -Sanusi Pane, Persatuan Indonesia, 1935-   Hal pertama yang mesti saya tekankan dalam esai ini adalah pandangan Sanusi Pane yang berbeda dengan Sutan Takdir Alisyabana dalam polemik kebudayaan di tahun 1935. Sutan Takdir Alisyabana, seperti diteruskan dalam […]

CONTINUE READING ➞

POTRET “RUMAH KUDUS”

Cerpen “Rumah Kudus” cerpen pilihan Kompas tahun 2022 adalah sebuah fiksi yang menurut Saut Situmorang setahun lalu (2021), adalah cerpen yang gagal sebagai fiksi. Cerpen ini menurutnya hanya semacam laporan jurnalistik. Dan pilihan Kompas atas cerpen ini menunjukkan sepenuhnya adalah subyektif kurator pun sebagai lembaga. Atas sebab itu sebagian orang menilai bahwa produk sastra Kompas […]

CONTINUE READING ➞

BUKAN SASTRA INFERIOR

Arif Budiman (Soe Hok Djin) dan Aril Heryanto, di tahun 1984 – dalam Sarasehan Kesenian di Solo yang diinisiasi Halim H.D menawarkan konsep apa yang disebut “Sastra Kontekstual”. Gagasannya adalah melawan apa yang disebut ‘keuniversalan’ seperti diyakini dalam Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Tak ada yang ukuran yang sama atau universal dalam hal apa pun. Semua terikat […]

CONTINUE READING ➞

MORAL FIKSI DAN JALAN TENGAH

Seni itu memberikan pengajaran, tulis John Gadner dalam On Moral Fiction (1978). Seni, sebagai lawan dari kekacauan, menemukan apa yang bisa dikatakannya. Itulah moralitas seni. Gadner, tentu saja dalam harapan dan visi yang menempatkan fiksi dalam sastra sebagai bagian dari agen perubahan. Meletakkan etika, benar dan salah sebagai prinsip. Untuk itu, dia menegaskan bahwa seni […]

CONTINUE READING ➞

TRADISI KARTU UCAPAN

Esther A. Howland adalah Mother of the Valentine. Setidaknya demikian masyarakat Paman Sam menyebutnya. Sejak tahun 1840, Esther sudah mulai membuat kartu ucapan kasih sayang di Amerka Serikat. Kartu ucapan itu setiap tahun terjual lebih dari seratus juta di seluruh Amerika. Mereka, para pengirim itu, seperti yang bisa kita bayangkan, adalah para insan yang dipenuhi […]

CONTINUE READING ➞

TENTANG KEMANDIRIAN DAN KRITIK

Ralph Waldo Emerson, sastrawan transendental (romantis) Amerika, menulis esai berjudul Self-Reliance di tahun 1841. Pikiran dalam Self-Reliance, atau kurang lebih berarti ‘kemandirian’ itu membuat saya merenung. Setidaknya bila melihat perkembangan sastra modern Indonesia di tahun 1940-an hingga era pascamodern kini (abad 21). Terutama, bila menyadari bahwa sastra Indonesia, baik dari gagasan filosofis dan bentuk estetikanya, […]

CONTINUE READING ➞

KRITISME W.S RENDRA SEBAGAI MODE

Saya mungkin tak terlalu beruntung untuk bisa bertemu Rendra, kecuali hanya dua kali yang tak cukup untuk bercakap panjang. Ketika kemudian saya menginap di Bengkel Teater di tahun 2010 selama seminggu, Rendra sudah tiada. Tapi saya masih cukup beruntung bisa membaca buku-bukunya dan berteman dekat dengan beberapa muridnya untuk mendiskusikan pelbagai pikiran W.S Rendra. Ketika […]

CONTINUE READING ➞
Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories