KALIMAT PENDEK DAN PANJANG

Dalam sebuah pengantar The Art of Short Story yang tidak diterbitkan di tahun 1959, namun diterbitkan kemudian secara anumerta, Ernest Hemingway menulis: “Jika seorang penulis prosa cukup tahu tentang apa yang dia tulis, dia mungkin menghilangkan hal-hal yang dia ketahui dan pembaca, jika penulis menulis dengan cukup benar, akan memiliki perasaan tentang hal-hal itu seolah-olah penulis telah menyatakannya.”

Maksud Hemingway dalam paragraf itu adalah seorang penulis tidak harus menyampaikan atau menulis seluruhnya sebagai ekspresi. Meskipun demikian, pembaca akan menemukan makna lain yang tak tertulis. Itu yang dimaksud sebagai subteks.

Ketika, penulis menuliskan sebuah narasi atau adegan dialog, kalimat, “saya sudah makan”, misalnya, bukan berarti sebuah eksposisi yang memberikan wawasan bahwa karakter benar-benar bermaksud menjawab dengan apa yang dikatakannya. Tetapi, bermakna dia marah. Makna marah ini terkonfirmasi pada tindakan sebelumnya.

Subteks adalah semacam gunung es yang terlihat di permukaan, tetapi menyembunyikan sesuatu yang berbeda di bawahnya. Itulah mengapa, prinsip penulisan itu disebut sebagai ‘The Principle of Iceberg’ atau Ommision of Theory. Seorang penulis tak perlu menuliskan semua adegan dalam ceritanya.

Namun, seluruhnya harus merujuk pada hal-hal yang diketahui oleh penulis dan pembaca, sebagai subteks. Prinsip ini kemudian juga membawa ciri-ciri, seperti kalimat pendek yang kemudian dianggap sebagai standar nilai dari sebuah tulisan prosa. Lalu bagimana hubungannya dengan persepsi masyarakat saat ini, bahwa sebuah penulisan disebut bagus bila ditulis dengan kalimat pendek?

Pada dasarnya, prinsip itu tak memiliki hubungan dalam persepsi baik buruk tulisan yang diukur dari panjang pendek kalimat. Pertama, teori itu meskipun menyarankan penulisan kalimat yang ringkas, tetapi secara prinsip tidak berhungan dengan klaim bahwa kalimat pendek lebih baik dibanding kalimat panjang.

Hemingway adalah seorang sastrawan atau seniman kata. Dia juga sekaligus adalah mantan wartawan yang terbiasa menulis cepat dan pendek. Kedua latar itu membawanya pada kesimpulam teorinya. Secara prinsip penulisan berita adalah keringkasan dan bersifat aktif, sedangkan sastra adalah seni yang memadukan seluruh elemen yang ada.

Dalam seni menulis fiksi, tujuannya adalah membangun realitas rasa di dalamnya atau membangun suasana atau perasaan teks. Dengan demikian fiksi bisa dinikmati sebagai ilusi fiksi. Kalimat baik pendek atau panjang memiliki nuansa emosinya.

Kalimat pendek, misalnya, membawa nuansa ketegangan, sedangkan kalimat panjang membawa nuansa ketegangan dan eksposisi penjelas. Sebuah novel yang ditulis dalam kalimat pendek dan terpotong yang menggunakan kata-kata kecil, dan sederhana mungkin terasa kasar, dingin, atau bahkan tidak penting.

Dalam karya-karya sastra seperti milik James Joyce, William Faulkner, Gabriel Gracia Marquez, misalnya, seluruh kalimatnya ditulis dengan panjang. Jadi, tidak mungkin kita menyebutnya sebagai tulisan yang buruk karena mereka menulis dengan kalimat panjang. Mungkin saja kalimat pendek membuat pembaca mudah memahami, tetapi itu bukan tujuan utama dalam sastra.

‘Prinsip Gunung Es’ pada dasarnya adalah teori menulis. Artinya apa yang ditemukan Hemingway ini adalah mazab yang bisa diikuti atau tidak. Bisa ditegaskan, bisa diruntuhkan. Maka, kesalahan dalam memahami prinsip ini secara mendasar tentu akan membingungkan dalam memberikan penilaian.

Mungkin saja seroang editor atau juri yang mengimani ini akan menilai dari posisi ini. “Ah, ini buruk karena kalimatnya panjang.’ Tentu saja ini adalah penilaian naif. Secara prinsip, menulis sastra, baik fiksi atau puisi, apa yang dibutuhkan adalah keseimbangan komposisi bentuk. Baik itu menggunakan kalimat pendek atau Panjang. Selain bahwa seorang penulis secara bebas bisa memilih jalan mazabnya.

Dalam aliran sastra, misalnya, di Amerika Serikat, pada tahun 1970-an lahir apa yang disebut oleh Bill Buford dari Majalah Granta sebagai ‘Dirty Realism’ adalah salah satu contoh aliran yang menggunakan prinsip ini secara penuh.
What We Talk About When We Talk About Love (1981) oleh Raymond Carver adalah contoh dari aliran ini ditulis, selain ada Tobias Wolff.

Dalam karya-karya mereka, kita jarang menemukan kalimat pasif, kalimat majemuk, dan struktur kalimatnya pendek-pendek, serta sarat dengan subteks. Dan seperti yang dijelaskan oleh Bill Bufford, aliran ini secara teknis mengadopsi prinsip-prinsip iceberg theory milik Ernest Hemingway.

Tulisan dengan kalimat panjang atau pendek, dengan demikian memiliki posisinya dan fungsinya sendiri. Setiap penulis bisa menggunakannya dan mengaturnya. Terutama dalam konteks tulisan fiksi sastra yang harus mampu merepresentasikan keindahan dari suatu seni.

Namun, dalam bentuk prosa nonfiksi seperti karya ilmiah bisa jadi disarankan. Karena tujuan utamanya bukan pada seni, tetapi argumen yang bisa dipahami. Dalam karya tulis ilmiah, kalimat panjang dan kompleks akan mengaburkan pesan.

Oleh karena itu, misalnya kita mengenal Guning Fog Index yang diperkenalkan oleh Robert Gunning di tahun 1952 untuk melihat seberapa jelas sebuah kalimat dituliskan. Salah satu caranya adalah mengurangi kalimat panjang dan kompleks. Mungkin demikian.

Penulis: Ranang Aji SP

 

 

 

MEMBACA PENILAIAN BAIK BURUK FIKSI SASTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories