MEMBACA PENILAIAN BAIK BURUK FIKSI SASTRA

Dalam seni menulis sastra, banyak orang bertanya tentang ukuran baik buruknya sebuah karya fiksi sastra. Mengapa karya yang itu lolos, dan yang lain tak juara? Ukuran ini kemudian digunakan, misalnya seorang redaktur mengurasi karya yang hendak diterbitkan di medianya, atau seorang juri menentukan karya yang dinilai terbaik dalam sebuah lomba.

Semua keputusan mereka ini, baik redaktur pun juri tentu saja tak selalu bisa memuaskan semua orang, dan pada akhirnya menghasilkan gugatan sebagian orang yang merasa tidak puas. Keadaan yang sama juga terjadi pada dunia kritik sastra. Sebuah karya yang diputuskan oleh redaktur atau juri lomba, dinilai gagal oleh perspektif seorang kritikus sastra. Demikian pula, kritik sastra yang dihasilkan dinegasikan oleh kritikus lainnya. lalu sesungguhnya apa yang terjadi?

Seni, di dalamnya sastra, pada dasarnya adalah produk kebudayaan yang terus berkembang dan beradaptasi dengan zamannya. Ukuran baik buruk sebuah karya dibangun dari prinsip-prinsip wawasan dan visi setiap zaman yang saling menegasikan dan mensubversi. Karya di masa Klasik, Neo-klasik, dan Pencerahan, misalnya berbeda ukurannya dengan masa Romantisme, Realisme, Modernisme, dan Posmodernisme. Prinsip-prinsip estetika dan etika selalu berubah, memberi pengaruh, menguatkan, atau menegasikan sama sekali.

Prinsip dalam Realisme, misalnya adalah semangat positivisme dalam karya sastra, dan menghadirkan realitas obyektif. Karya sastra realisme dan naturalisme, misalnya, seperi maksud Honore de Balzac dan Emile Zola mengatur bangunan dalam cerita semirip dengan dunia nyata, dan menampilkan kehidupan masyarakat kelas menengah bawah.

Secara visi, realisme memiliki motif untuk menolak atau mengritisi kehidupan kaum borjuis di Perancis. La Comédie humaine, karya Balzac, Mademe Bovary karya Gustav Flaubert, Le Ventre de Paris karya Zola adalah contoh bagaimana ukuran estetika realisme dibangun. Demikian pula dengan Realisme yang berkembang selanjutnya, seperi Realisme Psikologis Fyodor Dostoyevsky, Realisme Magis Gabriel Garcia Marquez, Dirty Realism Raymond Carver. Seluruhnya membawa suara dan ciri khasnya.

Sedangkan Modernisme dalam sastra yang berlangsung antara akhir abad 19 hingga awal 1940-an adalah gerakan yang mencoba melepaskan dominasi kaum borjuasi dan agama, selain bentuk estetika realisme abad 19. Prinsip modernisme adalah capain bentuk estetika yang selalu baru. Make IT New! adalah frasa dari judul buku kumpulan esai Ezra Pound (1934) yang menjadi doktrin suci kaum modernis.

Karena tujuan utamanya adalah bentuk estetika baru, di masa modern kemudian berkembang jenis eksperimental (avand garda) dan lahir aliran baru dalam seni dan sastra, seperti absurdime, dadaisme, surealisme, dan sebagainya. Modernisme juga membawa motif moral individualisme melawan semua otoritas lembaga agama dan semacamnya, termasuk protes terhadap perilaku industri dan perang yang mengancam eskitensi kemanusiaan. Karya-karya yang menjadi representasi modernisme awal bisa kita sebut Methamorphosis karya Franz Kafka, Ullyses karya James Joyce, dan Waiting For Godot karya Samuel Beckett.

Era Posmodernisme berkembang secara formal sejak tahun 1970-an dan memudar di tahun 1980an. Meskipun sebagai istilah membingungkan karena mengandung solecisme (salah tata bahasa), tetapi sebagai realitas gerakan ini membawa sesuatu yang berbeda dan karena itu melawan konsep modernisme. Bila Modernisme dominan pada pertanyaan epistemologis, Posmodern lebih pada ontologis, tulis Brian McHale (PostModernist Fiction, 1987). Fiksi posmodern kemudian menggunakan perangkat sastra seperti metafiksi, pastiche, mitologis, intertekstual untuk melambari visi dunia yang bebas dari dominasi mutlak. Karya-karya Italo Calvino, Charles Buskoswki, John Barth, dll adalah jenis sastra posmodern di tahun 1960-an.

Setiap Aliran Punya Alasan

Kesimpulan dari keterangan ‘isme’ itu adalah bahwa setiap aliran dalam sastra memiliki alasan mereka sendiri. Setiap aliran yang lahir datang untuk menyampaikan gagasannya secara ideologis tentang visi dunia mereka dengan melibatkan seperangkat alat sastra sebagai cirinya. Dengan demikian, tema di dalam fiksi sastra merepresentasikan arah visi yang berarti adalah soal etika, sedangkat perangkat sastra adalah soal teknis dan kerajinan yang merepresentasikan estetika atau keindahan bentuk.

Setiap bentuk dalam aliran sastra atau seni kemudian ditandai apa yang menjadi dominan dalam strukturnya. Apa yang dominan dalam Realisme berbeda dengan dominan yang ada dalam Romantisme, Modernisme, atau Posmodernisme. Roman Jakobson di tahun 1935 menjelaskan soal dominan dalam struktur sastra sebagai berikut:

Dominan dapat didefinisikan sebagai komponen pemfokusan sebuah karya seni: ia mengatur, menentukan, dan mengubah komponen yang tersisa. Dominanlah yang menjamin keutuhan struktur…sebuah karya puitis adalah sebuah sistem yang terstruktur, seperangkat perangkat artistik yang tersusun secara teratur dan hierarkis. Evolusi puitis adalah pergeseran dalam hierarki ini… Citra… sejarah sastra berubah secara substansial; ia menjadi jauh lebih kaya dan pada saat yang sama lebih monolitik, lebih sintetik dan teratur, daripada disjecta membra (terpotong-potong) keilmuan sastra sebelumnya.

Semua upaya pembentukan dalam semua aliran sastra atau seni, disatukan oleh tujuan estetika. Meskipun definisi estetika dalam setiap aliran juga bisa sangat berbeda. Sebagian orang beberpendapat estetika atau keindahan adalah menyenangkan dan berlawanan dengan apa yang dimaksud sebagai manfaat kognitif, moral, dan politik di dalam sebuah karya sastra dan seni.

Aritoteles dalam Poetica berpendapat bahwa seni mimesis, seperti dalam tragedi, epik atau komedi akan lebih indah, atau menyenangkan dengan melibatkan diksi, metafora, dan irama. Namun, itu juga menjadi sesuatu yang antinomi dan relatif bila kita menggunakan definisi estetika Immanuel Kant bahwa penilaian estetika adalah bersifat ‘subyektif dan universal’. Artinya semua bergantung pada ‘sesuatunya’.

Penilaian keindahan subyektif dan universal, menurut Kant membutuhkan rasa dan validitas ke semua orang. Melibatkan norma, intuisi, kognisi, dan juga akal sehat. Misalnya, keindahan dalam realisme model Balzac adalah kemampuan mengungkapkan realitas obyektif dalam fiksi, tetapi bagi kaum modernisme keindahan adalah pengungkapan realitas batin dalam karakter fiksi.

Dalam gagasan Nietzsche dan Freud, yang menjadi semangat kaum modernisme, misalnya, semua seni harus dipahami sebagai bagian dari kehendak (individu), sedangkan dalam Marxisme semua seni harus bersifat politis karena menjadi bagian dari produk budaya, seperti bisa kita baca dalam gagasan Realisme Sosial Maxim Gorky. Artinya, menilai, dalam konteks ini, seperti pendapat Kant, keindahan adalah kesenangan perasaan yang muncul pada pencapaian suatu tujuan. Konsep penilaian keindahan juga berarti membawa ‘kebutuhan’ sesuai prinsip yang ditetapkan.

Secara empiris-historis, semua aliran atau gerakan sastra membawa tujuan, tidak saja secara estetika, tetapi etika. Maka, tentu saja, ketika seorang redaktur sastra atau juri lomba penulisan fiksi sastra memutuskan karya yang menurutnya baik, maka, hasil dari penilaian mereka akan melibatkan kecenderungan pada posisinya di mana.
Sebut saja, misalnya cerpen Kompas, memiliki kebutuhan akan visi ‘humanisme transendental’ dengan kecenderungan realisme sebagai pilihan karena dekat dengan prinsip dunia jurnalisme, maka redaktur sastra di Kompas akan cenderung pada karya demikian.

Ketika tak ada standar dari kecenderungan ‘kebutuhan’ yang hendak dicapai oleh redaktur atau juri lomba, maka yang terjadi adalah mengikuti apa yang menjadi dominasi dalam tren sastra. Bahkan menganggap karya hanya sebatas pada bentuknya semata yang dianggap baru, meskipun ternyata bukan baru sama sekali. Semua itu memperlihatkan, atau merepresentasikan kebutuhan para redaktur atau juri lomba atau apa yang mengendalikannya.

Dengan demikian, apakah karya lainnya yang tak terpilih adalah buruk atau gagal sebagai karya yang baik, di luar kegagalan teknis? Tentu saja tidak. Sebagai contoh, mengapa Bilangan Fu karya Ayu Utami mendapatkan penghargaan Kusala Sastra 2008, tetapi dinilai Martin Suryajaya sebagai novel yang gagal dalam esai kritik sastranya yang menjadi juara dalam lomba kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013? Novel Burung Kayu, Niduparas Erlang gagal di sayembara novel DKJ 2019, tetapi menang dalam Kusala Sastra 2020?

Lalu mengapa novel Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya, yang tak bisa dinikmati sebagai fiksi, kata Manneke Budiman, tapi mendapatkan pengahargaan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2018? Tentu saja semua itu terjadi karena semua orang yang terlibat memiliki kebutuhan yang berbeda tentang karya fiksi sastra. Pada akhirnya semua tergantung pada ‘kebutuhan’ siapa. Mungkin demikian.

Artikel ini terbit pertama di Basa Basi [dot] Co

CHAIRIL ANWAR DAN ESENSI MODERNISME II
KALIMAT PENDEK DAN PANJANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories