PILIHAN LAKU ESTETIKA DAN PERUBAHAN

Membaca esai kritik berjudul “Fobia Metafora” karya Saut Situmorang, saya menangkap maksud penyair itu yang mengatakan bahwa puisi-puisi yang ditulis oleh Aan Mansyur dan Joko Pinurbo adalah jenis puisi “pop” atau sebut saja sebagai karya tak memiliki nilai, kecuali sebatas pada kebutuhan pasar. Genre yang dianggap tak memberikan asupan nilai kecuali hiburan, seperti kelas sinetron. Karya yang meskipun disukai tapi justru merusak seperti candu. Tapi ini adalah tafsir saya atas budaya pop, bukan Saut Situmorang. Kesimpulan itu ada setelah Saut menganggap bahwa baris-baris puisi kedua penyair itu tak memiliki metafora dan hanya menggunakan bahasa sederhana. Saut membandingkan bagaimana Chairil Anwar menulis puisi dengan bahasa sehari-hari, namun dengan pilihan diksi puitis yang ketat dan melibatkan metafora.

Meskipun generalisasi itu menurut saya terlalu berlebihan dan naif, karena tentu saja kita tidak bisa membuat satu kesimpulan hanya dengan satu karya saja. Seperti benarkan kedua penyair itu fobia terhadap metafora? karena paling tidak saya menemukan metafora, misalnya, dalam puisi Aan Mansyur yang berjudul “Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli”. Kita bisa membacanya dalam bait berikut:

 

Aku selalu mengenangkan, hari itu, kita

adalah sepasang pohon di musim semi.

Kau pohon penuh kembang. Aku pohon

yang ditempati burung merpati bersarang.

 

Bukankah kita melihat ada metafora di sana? Demikian pula pada bait terakhir puisi Joko Pinurbo berjudul “Cita-Cita di bawah ini, saya menemukan metafora:

 

Terberkatilah waktu yang dengan tekun

dan sabar membangun sengkarut tubuhku

menjadi rumah besar yang ditunggui

seorang ibu. Ibu waktu berbisik mesra,

“Sudah kubuatkan sarang senja

di bujur barat tubuhmu. Senja sedang

berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

 

Di luar fakta bahwa kita menemukan metafora dalam puisi kedua penyair tersebut, seperti dua bait puisi di atas, Saut memang benar bahwa metafora adalah salah satu perangkat teknis dalam sastra untuk membangun efek estetika. Hanya saja, Saut melupakan bahwa perangkat sastra untuk membangun estetika tidak saja berupa metafora. Kita juga mengenal perangkat lain seperti misalnya simbol yang berfungsi sebagai representasi dari gagasan yang kompleks atau untuk mewakili gagasan abstrak. Selain tentu saja, misalnya dalam puisi, penyair juga menggunakan rima dan metrum. Seluruh perangkat yang ada, mungkin saja bisa seluruhnya digunakan atau tidak, tetapi setidaknya untuk menghasilkan rasa senang, dalam bentuk apapun, seperti kata Aristoteles dalam Poetica karena harus melibatkan diksi, ritme, dan harmoni. Apakah harus dengan metafora? Tentu saja iya, untuk salah satu caranya. Tetapi juga bisa tidak, jika memang seorang penyair merasa tak membutuhkannya.

William Wordsworth, misalnya dalam sebuah pengantar bukunya Liryc Ballads (1800) berbicara panjang tentang posisi, fungsi, dan tujuan puisi ditulis. Dia mengatakan bahwa “Puisi adalah nafas dan roh yang lebih halus dari semua pengetahuan, ekspresi berapi-api yang ada di wajah semua ilmu pengetahuan” – selain untuk membagikan rasa senang untuk pembaca. Namun, dengan semua kesadaran itu, terutama bagaimana pesan itu puisi sampai, Wordsworth juga mempertimbangkan siapa pembacanya.  Dia mengatakan bahwa diksi puitis adalah hasil langsung dari preferensi demokratisnya untuk kehidupan dan karakter pedesaan yang sederhana. Ketika temanya sederhana, maka bahasanya pun harus sederhana. Bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang benar-benar diucapkan oleh orang-orang seperti itu, jika tidak, maka tidak akan memiliki karakter. Kita tentu membutuhkan akses dari kredo dari dua penyair itu, Aan Mansyur dan Joko Pinurbo. Karena tentu saja, dari akses keyakinan mereka atas laku estetikanya, kita bisa memahami pilihan di mana mereka menentukan cara dan tujuannya.

Nah, selain beberapa perangkat sastra di atas, kita juga mengenal perangkat sastra yang disebut sebagai ‘skaz’. Istilah Skaz ini diambil dari bahasa Rusia ‘skazat’ adalah semacam narasi lisan atau sehari-hari yang digunakan di dalam karya sastra, adalah salah satu stratergi teknis estetika yang biasa atau lazim digunakan sejak dulu. Di dalam novel, misalnya, Mark Twain menggunakannya dalam The Adventures of Huckleberry Finn, J.D Salinger menerapkannya dalam The Catcher in the Rye, tahun (1951). Dalam puisi, kita juga bisa membaca karya-karya Charles Bukowski, salah satunya A Smile To Remember:

 

Senyum Untuk Diingat

 

kami punya ikan mas dan mereka berputar-putar

di dalam mangkuk di atas meja dekat tirai tebal

yang menutupi jendela gambar

dan, ibu saya, yang selalu tersenyum, ingin kami semua

bahagia, mengatakan kepada saya, ‘berbahagialah Henry! ‘

dan dia benar: lebih baik berbahagia jika bisa,

tetapi

ayah saya selalu memukulinya dan saya beberapa kali seminggu, sambil

mengamuk di dalam tubuhnya yang berukuran 6 kaki dua inci karena dia tidak

mengerti apa yang menyerangnya dari dalam dirinya.

 

ibuku, ikan malang,

ingin bahagia, dipukuli dua atau tiga kali seminggu,

menyuruhku untuk bahagia: ‘Henry, tersenyumlah!

kenapa kamu tidak pernah tersenyum? ‘

 

dan kemudian dia akan tersenyum, untuk menunjukkan caranya, dan itulah yang terjadi

senyuman paling menyedihkan yang pernah kulihat

 

suatu hari ikan mas mati, semuanya berlima, mereka

mengapung di air, miring, mata

masih terbuka,

dan ketika ayahku pulang, dia melemparkannya ke kucing

yang ada di lantai dapur dan kami menyaksikan ibuku

tersenyum

 

Kita juga bisa membaca karya Remy Sylado dalam cara penulisan model skaz ini atau puisi yang ditulis dalam bahasa sehari-hari dan sederhana:

 

Menangislah, Nak

 

Menangislah, nak

pada orang berjas di istana

pada orang berdasi di senayan

pada beo yang berkicau di kurungan

pada anjing yang menggongongi kafilah

pada semua yang tak capek-capeknya ngibul

tentang Indonesia yang aman tenteram raharja

 

Menangislah, nak

karena mereka tidak sadar

kita menyaksikan kebebalan mereka

yang mengira benang basah bisa ditegakkan.

 

Bukankah puisi tersebut mudah dipahami dan menyentuh, meskipun diksinya sederhana dan nir metafora, namun juga bermakna? Puisi, tentu saja memiliki tujuan dan fungsinya. Rasa senang atau indah di dalamnya bisa dihasilkan melalui preferensi yang berbeda, tetapi selurunya adalah hasil dari sebuah kesan penyair terhadap apa yang ditemuinya. Puisi harus melayani tujuan kehidupan dan moralitas, seperti kata William Wordsworth, dan dari setiap bait kita bisa merasakan atau mengerti apa pesannya, baik sebagai makna harfiah atau metafora secara konseptual. Karena toh, kita juga bisa memahami metafora sebagai konsep yang integral dalam kehidupan. Inti dari metafora adalah memahami dan mengalami satu jenis hal dalam kaitannya dengan hal lainnya, seperti kata Goerge Lakoff dan Mark Johnson dalam Metaphors We Live By. Puisi atau cerita, selalu merupakan metafora dan alegori dengan demikian karena selalu menjadi cermin keadaan.

Selain tujuan estetika, apa sebenarnya tujuan dan fungsi puisi? Estetika semata tentu adalah kebutuhan hiburan, dan bisa jadi puisi Joko Pinurbo sampai pada rasa kesenangan yang dibutuhankan oleh pembacanya. Demikian pula dengan Aan Mansyur. Mereka, mungkin saja mewakili masyarakat kini yang dikurung wacana posmodern, yaitu masyarakat yang lebih bebas dan sederhana dalam tatanan kosmis pascamodern yang tak mengenal kebenaran absolut, tetapi terkadang justru menjadi lebih cair, karena tak mengandung silopsisme seperti sebagian puisi-puisi Chairil Anwar.

Maksud saya, kedua penyair, Aan Mansyur dan Joko Pinurbo mewakili ‘rasa’ masyarakat kini, sedangkan puisi Chairil Anwar yang memang indah dengan diksi-diksi yang kuat dan puitis, tetapi membawa beban silopsisme karena kecenderungan hasratnya pada eksistensialisme. Bukankah, tak semua orang dalam masyarakat kita juga paham dan setuju dengan gagasan eksistensialisme? Semua hal selalu bergeser, dengan materi yang hampir sama, tetapi sebuah karya seni atau sastra akan selalu berubah bentuk pada setiap zaman. Mungkin memang bisa berupa dekadensi atau peningkatan. Tapi toh, orang selalu cenderung untuk membawa tradisi yang menjadi bahan dan dikembangkan dalam pola masa kini. Sepertinya halnya model skaz atau bentuk metafiksi dalam sastra yang merupakan tradisi lama dan digunakan secara ulang di masa kini seperti dalam puisi Joko Pinurbo.

Namun, pada dasarnya, selain estetika dalam pelbagai stratergi bentuk yang dimani para penyair secara berbeda, seperti Saut Situmorang sendiri, Aan Mansyur, Joko Pinurbo, dan lainnya, mereka adalah mahluk yang memiliki kemampuan untuk melihat yang tak terlihat dari yang bisa dilihat oleh manusia biasa, yang kemudian tersampaikan dalam isi puisi mereka. Pengalaman seorang penyair, kesan-kesan dari apa yang ditemui dan dihadapi mampu menjadi lanskap terbuka bagi masyarakat awam untuk menyadari ‘sesuatu’ yang tak mereka sadari di hadapan mereka setelah membaca puisi-puisi para penyair. Itu adalah esensi dari keberadaan dan kekuatan seorang sastrawan untuk melihat fenomena, seperti yang dimaksud Henry James dalam The Art of Fiction:

“…The power to guess the unseen from the seen, to trace the implication of things, to judge the whole piece by the pattern, the condition of feeling life, in general, so completely that you are well on your way to knowing any particular corner of it–this cluster of gifts may almost be said to constitute experience, and they occur in country and in town, and in the most differing stages of education…

[“…Kekuatan untuk menebak yang tak terlihat dari yang terlihat, untuk melacak implikasi dari berbagai hal, untuk menilai seluruh bagian dari pola, kondisi kehidupan yang dirasakan, secara umum, begitu lengkap sehingga Anda berada dalam perjalanan untuk mengetahui sudut tertentu darinya — kelompok karunia ini hampir dapat dikatakan sebagai pengalaman, dan itu terjadi di desa dan di kota, dan dalam tahap pendidikan yang paling berbeda…”]

Kemampuan melihat yang tak terlihat dari yang terlihat itu, pada dasarnya adalah esensi dari seorang sastrawan. Baik itu penyair, novelis, cerpenis, dan seorang kritikus seni atau sastra. Kemampuan melihat esensi itulah yang membedakan nilai. Estetika tentu saja penting, tetapi ia selalu relatif, dan penggunaan teknis pembentuknya juga selalu berbeda. Karena faktanya demikian. Kecenderungan bentuk puisi juga selalu berubah di setiap zaman dan melahirkan pelbagai aliran. Kita melihat bagaimana kecenderungan romantisme berubah di masa simbolisme di Prancis oleh Charles Baudelaire di abad 19, puisi dengan metrum dan rima dalam tradisi Eropa berubah dalam puisi bebas tanpa rima sejak diperkenalkan Walt Whitman dan terus berlanjut di masa pergerakan modernisme, terutama melihat Ezra Pound dan diikuti T.S Eliot yang mengenalkan puisi imagisme di awal abad 20. Dus, perubahan adalah keniscayaan. Tetapi dalam semua perubahan itu, puisi, misalnya selalu cenderung membawa kesenangan dan makna. Demikian pula dengan puisi sederhana Aan Mansyur dan Joko Pinurbo, bukankah membawa kesenangan bagi banyak pembacanya? Akhirnya, saya menutup esai ini dengan kesan Wallace Stevens  dalam Notes Toward a Supreme Fiction (1942), bahwa puisi adalah fiksi tertinggi, karena esensi puisi adalah perubahan dan esensi perubahan adalah memberikan kesenangan.

Sumber Bacaan:

1. Saut Situmorang, Fobia Metafora, Tengara[dot] id.

2. Willian Worthsworth , Preface Lyrical Ballads

3. Henry James, The Art of Fuction,

4.  Wallace Steven, Notes Toward a Supreme Fiction

 

 

 

 

 

 

MELIHAT MASALAH REKOMENDASI BUKU SASTRA
KASUR TANAH DAN MASALAHNYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories