TRADISI KARTU UCAPAN

Esther A. Howland adalah Mother of the Valentine. Setidaknya demikian masyarakat Paman Sam menyebutnya. Sejak tahun 1840, Esther sudah mulai membuat kartu ucapan kasih sayang di Amerka Serikat. Kartu ucapan itu setiap tahun terjual lebih dari seratus juta di seluruh Amerika. Mereka, para pengirim itu, seperti yang bisa kita bayangkan, adalah para insan yang dipenuhi rasa kasih sayang. Baik insan yang sudah berpasangan, atau insan jomlo yang menunggu pasangan. Baik oleh perasaan kasih sayang yang dibalas, atau cinta yang ditolak tanpa belas. Tapi, intinya, kartu ucapan kasih sayang itu adalah media ekspresi yang -sebut saja lebih beradab ketimbang menyebarkan ekspresi kebencian.

Di Indonesia, perayaan kasih sayang itu datang dan disambut secara malu-malu. Mulai kapan itu, saya belum tahu pasti. Namun, di masa remaja saya dulu, di tahun 1990-an, sejauh saya ingat, Valentine Day adalah perayaan yang hanya dikenal oleh kalangan remaja kota. Popularitasnya jelas masih kalah dengan sosok tengil Lupus dengan permen karetnya. Namun, cara mengekspresikan perasaan melalui puisi atau kalimat romantis di kartu pos di hari kasih sayang, di saat itu adalah hal yang lumrah, persis dan masih setia mewarisi tradisi Esther A. Howland di abad 18.

Tradisi literasi melalui ucapan kartu saat itu menjadi sesuatu yang melampaui apa yang disebut sebagai sekadar romantisme dangkal: ia setengah serius karena membawa tradisi ekspresi epistolary, artinya punya nilai sastra, dan setengah picisan karena hanya terlihat sekadar persoalan cinta. Tapi, tentu saja itu hanya soal peresepsi. Apapun itu, tetap saja itu adalah cara mengekpresikan perasaan hati yang pantas dihormati sebagai peradaban manusia. Terutama ketika kita harus membandingkan dengan tradisi simbolisme yang naif dan primodial -yang pada akhir-akhir ini sering diterima dengan salah paham oleh kalangan puritan tertentu. Tentu, tidak saja oleh sebab karena dianggap berselisih dengan ajaran agama tertentu, tetapi juga karena merepotkan kantong kering para kaum duafa. Sebuah kontras antara hasrat ekspresi para insan penuh cinta dengan hasrat tambah kaya kaum kapitalis.

Membeli coklat, katakan seperti itu, mungkin masih sedikit ringan, dibanding ketika hasrat para insan penggemar sinetron dan film roman picisan yang rapuh dihasut oleh apa yang ditontonnya. Hal itu bukan lagi persoalan enteng. Apalagi anak baru gede yang yang hidup dalam impian romantisme yang membara. Menyala dan berselimut gengsi. Bayangkan sebuah acara romantis candlelight dinner bak para pangeran dan sultan, kemudian diinginkan oleh remaja yang berhasrat roman macam itu, tapi miskin. Dari sini, para penulis fiksi, mungkin bisa membangun plotnya dengan premis: Cinta Membuat Remaja Miskin Jadi Maling.” Itu adalah problem sosial dan psikologis, tentu saja.

Jejak Epistemologis

Di masa kini, di mana problem literasi, terutama pada minat baca dan menulis adalah fakta menyedihkan yang diabaikan, hari kasih sayang terus menjadi perdebatan musiman, seperti halnya ucapan hari Natal di setiap tahun. Tak banyak orang mau mengambil sisi positif apa yang bisa diambil dari keadaan yang sudah menjadi realitas. Tradisi adalah bagian dari kebudayaan manusia, bisa itu sebagai kreasi murni atau yang bersifat impor. Kita tidak sadar, pada faktanya kita juga sudah banyak kehilangan apa yang asli dari apa yang disebut kebudayaan sendiri, dan menghidupi tradisi impor dengan memodifikasi atau bersifat inovatif. Itulah yang sering kita dengar dengan istilah sinkretisme dan asimilasi budaya. Itu adalah realitas kita sejak berabad-abad lalu.

Valentine sendiri, meskipun memiliki versi yang beragam secara historis, tetapi setidaknya memiliki esensi pesan atas nilai moral yang sama, yaitu kasih sayang adalah bagian tak terpisahkan dari manusia, bahkan mahluk hidup. Setidaknya bila itu kemudian diletakkan pada konteks yang lebih substansial pada tradisi kebudayaan masyarakat dunia yang lepas dari keyakinan agamanya. Sesuatu yang bersifat universal. Untuk itu semua manusia biasa merayakannya sebagai pengingat bahwa setiap orang seharusnya tumbuh dengan kasih sayang. Toh problem keyakinan juga menghinggapi para pemuka gereja di masa lalu. Bukankah Gereja Katolik pun sering berbeda paham siapa Santo Valentine sebenarnya? di mana Gereja Katolik akhirnya menghapus pemujaan Santo Valentine dalam liturginya di tahun 1969.

Kebudayaan yang menjadi tradisi seringkali tumpang tindih berganti pemakainya. Hal yang sama terjadi ketika festival Lupercalia di masa Romawi kuno yang dirayakan setiap tanggal 15 Februari, dan diganti dengan perayaan Valentine sejak 270 M. Kebudayaan tentu saja terus berkembang, dan apa yang dinilai baik dan universal akan terus hidup. Meskipun asal sumbernya kian samar. Ia bisa melampaui keyakinan agama tertentu. Itu adalah semacam fasad metarealisme dalam seni rupa dan puisi di Rusia yang memiliki dimensi metafisik dan metaforis. Maka, menghentikan kecurigaan pada ambisi-ambisi tertentu menjadi sangat penting dan layak dipertimbangkan.

Jadi, paling penting, menurut saya, adalah kompromi, bagaimana kita mengolah dan membangun perayaan-perayaan tertentu, seperti Valentine, Hari Ibu, dan banyak yang lain dengan format seperti keinginan kita sebagai budaya yang bertujuan baik. Ketimbang meributkannya dalam masyarakat plural – yang sumber kebudayaannya bisa dari mana saja. Mungkin dengan memilih membangun tradisi literasi membaca dan menulis melalui kartu ucapan, misalnya pada Hari Valentine dan yang lain, adalah pilihan yang tidak berat dalam konteks ini. Selain bermanfaat untuk membiasakan anak muda berani berekspresi dan menulis. Meskipun hanya sekadar melalui kartu ucapan. Itu jelas bernilai positif. Mungkin demikian.

 

Ranang Aji SP adalah penulis fiksi dan esai. Tinggal di Magelang.

 

 

TENTANG KEMANDIRIAN DAN KRITIK
MEMBACA PENILAIN BAIK BURUK FIKSI SASTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close My Cart
Close Wishlist
Close

Close
Navigation
Categories